JOGJA - Para Aktivis 98 Indonesia melakukan retret di Kaliurang, Sleman sejak 9-10 Agustus. Agenda tersebut muncul karena kegelisahan melihat situasi Indonesia dengan kebijakan pemerintahanya yang kurang baik.
"Dalam konteks pemerintahan kami menilai bahwa kabinet yang ada di pemerintahan sekarang kami lihat kinerjanya kurang begitu baik," ujar Koordinator Aktivis 98 Indonesia Surya Wijaya saat ditemui di area Alun-Alun Utara, Jogja Minggu (10/8).
Baca Juga: Demi Bangsa dan Negara, Kadin Indonesia Lupakan Untung-Rugi selama Retret di Akmil Magelang
Kebijakan yang dikritisi yakni kebijakan perpajakan di beberapa daerah yang membebani rakyat. Kemudian, mereka juga menyoroti reaksi pemerintah dalam merespons adanya aspirasi atau aksi demonstrasi oleh rakyat. Dalam praktiknya, pemerintah justru jauh dari implementasi konsep demokrasi.
"Kami melihat bahwa demokrasi yang selama ini kita agungkan melalui dasar negara Pancasila, ternyata ada yang tidak diamalkan," bebernya.
Baca Juga: Pitulasan, Los Pasar Beringharjo Jogja pun Meriah dengan Berbagai Hiasan dan Ornamen Kemerdekaan
Menurutnya ada sekitar 50 aktivis yang mengikuti retret selama dua hari tersebut. Tak hanya berasal dari Jogja. "Ada kawan-kawan dari Kalimantan Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, Jakarta, Jawa Barat, Lampung, Sumatera Utara," bebernya.
Setelah retret, mereka akan mendatangi tokoh-tokoh nasional seperti Sri Sultan Hamengku Bawono Ka 10, Megawati, Amien Rais, dan beberapa lainnya. Beberapa tokoh tersebut dinilai hadir dan mewakili spirit reformasi tahun 1998.
Baca Juga: Ketat, Perbedaan Waktu Antarpembalap di Kelas Men Elite 76 Indonesian Downhill Season 2025 Kurang dari Satu Detik
"Ngarso Dalem, kami sudah minta waktu sama beliau, rencananya hari ini cuma beliau berhalangan. Lalu ke Bu Mega. Mungkin beberapa waktu ke depan lah," ucapnya.
Setelah silaturahmi dengan para tokoh, selanjutnya akan dibuka ruang-ruang demokrasi. "Kami juga akan mengundang tokoh-tokoh bangsa untuk selalu ber tukar pikir," ungkapnya.
Sementara pada Oktober, evaluasi pemerintahan Prabowoa-Gibran ini selama setahun akan turut dilakukan.
Anggota Aktivis 98 Indonesia Antonius berharap, pertemuan ini menjadi dapat membuka ruang demokrasi. “Sehingga masyarakat punya saluran untuk memikirkan dan memperjuangkan aspirasi mereka," jelasnya.
Baca Juga: DP3APPKB Bantul Gencar Lakukan Pendampingan kepada Masyarakat untuk Menekan Kasus Stunting
Menurutnya, para aktivis pergerakan saat ini lebih mudah untuk mengerahkan massa dibandingkan masa 1998 yang belum ada handphone. Bentuk menyampaikan aspirasi pun juga berbeda. Sebab saat ini bisa dilakukan melalui media sosial.
"Misal fenomena bendera One Piece, artinya apa pun bentuk perlawanannya spirit-nya sama," ucapnya. (oso/eno)