Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

UGM Berhasil Kembangkan Aplikasi Skrining TBC Berbasis AI Pertama di Indonesia

Fahmi Fahriza • Sabtu, 9 Agustus 2025 | 04:46 WIB

 

Tim peneliti DIKE Fakultas MIPA UGM dan inovasi aplikasi skrining TBC berbasis AI
Tim peneliti DIKE Fakultas MIPA UGM dan inovasi aplikasi skrining TBC berbasis AI

JOGJA - Inovasi dilakukan tim peneliti Departemen Ilmu Komputer dan Elektronika (DIKE) Fakultas MIPA UGM. Mereka berhasil mengembangkan aplikasi skrining tuberkulosis (TBC) berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) pertama di Indonesia.


Penggagas aplikasi Wahyono menerangkan, aplikasi bernama TBScreen.AI ini dapat diakses melalui laman http://tbscreen.ai, dan dirancang untuk membantu tenaga medis maupun masyarakat umum dalam mendeteksi indikasi TBC secara cepat.

Baca Juga: Koperasi Desa Merah Putih Diharapkan Jadi Motor Penggerak Ekonomi Desa, Pakar Ekonomi UGM: Kuncinya di Prinsip Koperasi
"Inovasi ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam penanggulangan TBC. Salah satunya lewat pemanfaatan teknologi computer-aided diagnosis (CAD)," katanya kemarin (8/8).


Diakui, teknologi itu juga telah direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia yakni World Health Organization (WHO) untuk membantu membaca hasil rontgen dada. "Pengguna cukup mengunggah foto rontgen dada, lalu sistem akan menganalisis dan menampilkan persentase kemungkinan terindikasi TBC," terangnya.

Baca Juga: Penerapan Mata Pelajaran Coding dan Artificial Intelligence (AI) Tunggu Kebijakan Pusat, Beberapa SMA di DIY Mulai Persiapan
Namun ia juga menguraikan hasil ini bukan diagnosis akhir, melainkan skrining awal yang tetap perlu dikonfirmasi dokter. Dalam prosesnya dijelaskan pengembangan TBScreen.AI merupakan bagian dari riset yang didanai program KONEKSI, inisiatif Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) Australia.


Proyek ini dipimpin dr Antonia Morita I. Saktiawati, Ph.D. dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan UGM, dengan Wahyono sebagai koordinator Tim AI. Penelitian melibatkan kolaborasi lintas institusi, termasuk University of Melbourne, Monash University Indonesia, Universitas Sebelas Maret, Pusat Rehabilitasi YAKKUM, SAPDA, dan YPKMP Papua.

Baca Juga: Setelah Menarik 10% - 50% Tarif Impor, Kini Donald Trump Akan Kenakan Tarif 100% Pada Chip Komputer, Bagaimana Dampaknya untuk Indonesia?
Data awal untuk pengembangan diperoleh dari RSUP Dr Sardjito Jogjakarta. Setelah divalidasi oleh tim klinis dan tim radiologi, model AI dibangun menggunakan teknologi digital image processing, computer vision, dan machine learning.


"Saat ini, akurasi model masih di kisaran 64 persen dari 936 data. Tim menunggu tambahan data dari RSUD Mimika untuk peningkatan akurasi," ulasnya.


Aplikasi ini memiliki fitur utama skrining otomatis rontgen dada dengan output probabilitas indikasi TBC (0–100 persen). Versi terbatasnya sudah disosialisasikan di Balkesmas Klaten (2 Agustus 2025) dan RSUD Mimika (7 Agustus 2025) sebagai proyek percontohan.


UGM menargetkan rilis publik pada akhir 2025 setelah menerima umpan balik dari tenaga kesehatan di dua lokasi tersebut. Secara garis besar ia berharap hadirnya TBScreen.AI mempercepat deteksi kasus TBC, terutama di wilayah sulit dijangkau atau fasilitas kesehatan yang minim tenaga dokter.


"Inovasi ini juga menjadi kontribusi nyata UGM dalam mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan atau SDGs," tandasnya. (iza/laz)

Editor : Herpri Kartun
#Departemen Ilmu Komputer dan Elektronika UGM #tuberkulosis (TBC) #WHO #Artificial Intelligence (AI)