Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pemkot Jogja Wacanakan Malioboro Full Pedestrian, Pakar UGM: Tidak Bisa Langsung Permanen, Harus Bertahap

Fahmi Fahriza • Senin, 28 Juli 2025 | 15:35 WIB

 

LIBUR PANJANG: Wisatawan memadati kawasan Malioboro dalam periode libur akhir pekan 
LIBUR PANJANG: Wisatawan memadati kawasan Malioboro dalam periode libur akhir pekan 

 

JOGJA - Kepala Pusat Studi Perencanaan Pembangunan Regional Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Ir Bambang Hari Wibisono menilai, langkah membebaskan Malioboro dari kendaraan bermotor merupakan kebijakan yang positif. Dalam rangka meningkatkan kualitas udara dan kenyamanan ruang kota.

Sebab motor dan mobil menghasilkan emisi gas buang yang cukup tinggi. “Jika ingin kualitas udara lebih bersih, tentu harus ada pembatasan," katanya pada Radar Jogja Minggu (6/7).

 Baca Juga: Wisuda Untidar Magelang IPK 3,99 dan Janji Seorang Kakak: Lulus untuk Gantian dengan Adik

Namun, Bambang menekankan bahwa kebijakan ini tidak bisa langsung diberlakukan secara permanen. Ia menyarankan agar Pemkot Jogja melakukan uji coba terlebih dahulu dalam waktu yang cukup panjang dan dilakukan secara repetitif. Tujuannya, untuk mengidentifikasi dampak jangka pendek, menengah, maupun panjang dari kebijakan tersebut.

"Pemerintah harus punya data berdasar hasil uji coba yang valid. Jangan langsung ketok palu. Harus ada tahapan uji coba yang implementatif," tegasnya.

Dosen Departemen Teknik Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik UGM Prof Ir Bambang Hari Wibisono
Dosen Departemen Teknik Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik UGM Prof Ir Bambang Hari Wibisono

Selain isu lingkungan, kebijakan ini juga harus mempertimbangkan dampak terhadap lalu lintas kota. Jalan Malioboro merupakan jalur satu arah yang berfungsi sebagai penghubung strategis menuju Jalan Parangtritis, Alun-Alun Utaran dan Alun-Alun Selatan, dan jalan-jalan besar lainnya. 

 Baca Juga: Dulu Dianggap Tak Bernilai, Kemukus Rempah Asli Perbukitan Menoreh Punya Nilai Ekonomis Tersendiri

Jika akses kendaraan ditutup total, kepadatan lalu lintas maka akan berpindah ke ruas jalan lain seperti Jalan Mataram, Jalan Pasar Kembang, hingga Jalan Letjen Suprapto.

"Perlu ada rekayasa lalu lintas atau kebijakan lain yang mendukung. Jika tidak, kemacetan justru akan berpindah dan berdampak ke wilayah lain," katanya.

Di sisi lain, Malioboro merupakan destinasi wisata utama yang kerap dikunjungi wisatawan. Bambang mengingatkan pentingnya mempertimbangkan aktivitas ojek online, taksi online, serta aksesibilitas kendaraan umum seperti Trans Jogja.

 Baca Juga: Tambah Kedalaman dan Matangkan Persiapan Arungi BRI Super League 2025/2026, PSIM Jogja Berencana Tambah Pemain Baru

"Apakah semua lantas tidak boleh lewat, atau ada pengecualian, itu harus dipikirkan," pesannya.

 

Dia juga menyoroti potensi pengecualian bagi kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) yang tidak menghasilkan emisi karbon signifikan. Sehingga bisa tetap melintas dengan pengaturan tertentu.

 

Secara garis besar, dia mengharapkan jika berhasil diterapkan, kebijakan car free everyday di Malioboro diyakini dapat mendorong kebiasaan berjalan kaki. Serta menghidupkan kembali moda transportasi tradisional seperti becak dan andong.

 

"Wisatawan bisa lebih nyaman tanpa polusi udara dan suara. Ini bisa memperkuat citra Malioboro sebagai ruang publik yang sehat, dan ramah pejalan kaki," ungkapnya. (iza/eno)

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#Universitas Gadjah Mada (UGM) #kendaraan bermotor #Pusat Studi Perencanaan Pembangunan Regional #uji coba #kualitas udara #Emisi Karbon #Pemkot Jogja #pedestrian #Kenyamanan #transportasi tradisional #Malioboro #Bambang Hari Wibisono