JOGJA - Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kota Jogja mencatat 34 kejadian kebakaran sejak Januari-Juli. Penyebab utamanya masih dikarenakan kelalaian manusia. Yakni penggunaan komponen kelistrikan yang tidak sesuai standar dan mengakibatkan korsleting.
Kepala Damkarmat Kota Jogja Taokhid mengatakan, khusus Juli, diketahui sudah ada tiga kejadian kebakaran yang disebabkan oleh korsleting listrik. Kasus pertama terjadi pada 4 Juli lalu yang menimpa sebuah galeri seni di Jalan Minggiran, Mantrijeron sekitar pukul 04.17.
Kemudian dua kasus sisanya terjadi dalam kurun waktu kurang dari 24 jam. Yakni di sebuah warung makan di Jalan MT Haryono, Suryodiningratan, Mantrijeron pada 20 Juli sekitar pukul 19.58.
Lalu disusul kebakaran pada sebuah kos-kosan di Jalan Pramuka, Pandeyan, Umbulharjo di tanggal 21 Juli pada pukul 11.45. Melihat banyaknya kasus kebakaran, Taokhid meminta agar masyarakat mewaspadai potensi kebakaran. “Upayanya dapat dilakukan dengan menggunakan komponen listrik sudah memenuhi SNI,” ujar Taokhid saat dikonfirmasi lewat sambungan telepon Selasa (22/7).
Kemudian juga tidak menggunakan komponen listrik di luar kapasitas. Misalnya memfungsikan stop kontak dengan beban colokan yang terlalu banyak atau meninggalkan perangkat elektronik tanpa adanya pengawasan.
Menurutnya, seluruh kejadian kebakaran di Kota Jogja terjadi di wilayah permukiman padat penduduk. Namun beruntungnya tidak ada korban jiwa. “Alhamdulilah nol,” katanya.
Taokhid mengklaim, pihaknya sudah melakukan mitigasi lewat kegiatan penyuluhan pencegahan kebakaran kepada masyarakat. Namun diakui, pada tahun ini program tersebut belum merata untuk semua wilayah di Kota Jogja.
“Sebab tahun lalu basisnya kecamatan, kemudian tahun ini kami perluas per kelurahan/kampung,” jelas Taokhid.
Terpisah, Ketua Komisi C DPRD Kota Jogja Bambang Seno Baskoro menilai, antisipasi dan peningkatan infrastruktur pencegahan kebakaran sudah saatnya dilakukan. Oleh karena itu, pihaknya berupaya agar hidran kering bisa tersedia di seluruh kampung.
Sebab sampai saat ini diketahui baru tersedia 16 titik hidran kering yang tersebar di Notoprajan, Pathuk, Kauman, dan Prawirodirjan. Masih sedikitnya ketersediaan hidran kering salah satunya karena anggaran pengadaannya yang cukup besar. Yakni Rp 1,6 miliar per titik.
“Kami di legislatif terus berupaya mendukung kegiatan dinas kebakaran sesuai kemampuan anggaran,” tegas Seno beberapa waktu lalu. (inu/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita