JOGJA - Pakan merupakan masalah pokok dalam sebuah usaha peternakan. Pemberian pakan ternak umumnya dilakukan dengan pemanenan hijauan setiap hari. Hal tersebut dapat menjadi persoalan bila lahan tidak dapat memenuhi kebutuhan ternak. Terutama saat musim kemarau.
Menyikapi itu, Seksi Perbibitan Ternak dan Hijauan Pakan Ternak Balai Pengembangan Perbibitan Ternak dan Diagnostik Kehewanan (PPTDK) Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY telah melakukan inovasi dengan pembuatan complete feed fermentasi.
Complete feed fermentasi merupakan pakan tunggal hasil fermentasi. Pencampuran berbagai bahan pakan, termasuk hijauan, konsentrat, dan bahan-bahan lain yang memenuhi kebutuhan nutrien ternak.
Hijauan pakan berupa rumput, legume dan daun daunan dapat digunakan sebagai bahan pokok pembuatan complete feed fermentasi. Hijauan dengan kualitas yang kurang baik juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan complete feed fermentasi.
Proses fermentasi dapat menguraikan struktur serat kasar yang sulit dicerna menjadi ikatan yang lebih sederhana. Lebih mudah dimanfaatkan oleh ternak, sehingga penggunaan rumput atau legume dengan kualitas yang kurang baik.
Misalnya, terlalu tua, tidak akan menjadi masalah. Pemberian pakan dengan metode complete feed fermentasi menjadikan petugas lahan tidak melakukan panen rumput setiap hari. Itu dapat meningkatkan efektifitas waktu dan tenaga kerja peternakan.
Pembuatan complete feed fermentasi menggunakan bahan-bahan pakan yang biasa digunakan untuk pakan ternak. Yakni hijauan berupa rumput, legume atau daun-daunan, dan konsentrat. Juga garam, premiks mineral tetes tebu atau molases dan starter probiotik.
Pelayuan hijauan setelah panen diperlukan untuk mengurangi kadar air guna mencegah terjadinya pembusukan. Hijauan yang telah dilayukan tersebut kemudian dicacah dengan mesin pemotong rumput atau chopper hingga menghasilkan cacahan yang halus.
Partikel hijauan yang halus dapat meningkatkan kemungkinan seluruh bagian hijauan dari daun hingga batang dapat terkonsumsi, sehingga meminimalisasi pakan yang tersisa.Partikel pakan yang kecil juga meningkatkan homogenitas complete feed secara keseluruhan dan memudahkan proses pencampuran.
Pembuatan larutan probiotik sebagai agen fermentasi untuk 100 kg pakan dilakukan dengan melarutkan 6 sendok makan garam, 6 sendok makan premiks mineral, 4 tutup botol starter probiotik dan 0,5 liter tetes tebu atau molases pada 5 hingga 10 liter air. Peggunaan air pada larutan probiotik menyesuaikan kondisi hijauan yang digunakan.
Rumput yang cenderung lebih muda memiliki kandungan air yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan rumput yang lebih tua, sehingga penggunaan air dalam fermentasi cenderung lebih sedikit. Larutan tersebut kemudian ditambahkan dengan starter probiotik sebanyak 2 hingga 3 tutup botol.
Cara pembuatan complete feed fermentasi sangat mudah, yakni dengan mencampurkan hijauan, konsentrat dan larutan probiotik yang telah dibuat. Bahan-bahan pakan berupa hijauan yang terdiri atas rumput, legum dan daun-daunan sebanyak 75 kg yang telah dicacah diratakan pada permukaan yang luas untuk memudahkan bahan bahan pembuat complete feed fermentasi tercampur dengan homogen.
Konsentrat sebanyak 24 kg kemudian ditambahkan di atas lapisan hijauan dan diratakan. Larutan probiotik kemudian disiramkan secara merata di atas lapisan. Dilakukan pengadukan pada seluruh bahan pakan. Pengadukan dilakukan dengan cara membolak balikkan seluruh bahan pakan sebanyak dua hingga tiga kali hingga benar-benar homogen.
Pembuatan complete feed fermentasi dengan jumlah besar dapat dilakukan dengan beberapa tahap pencampuran agar campuran pakan lebih homogen atau dapat dilakukan dengan mixer pakan apabila tersedia.
Semua bahan pakan yang telah tercampur dengan homogen kemudian disimpan dalam media penyimpanan berupa tong plastik bertutup yang dilengkapi dengan klep. Bahan-bahan pakan yang telah tercampur kemudian dimasukkan ke dalam tong dan dipadatkan.
Pemadadatan harus dilakukan secara bertahap untuk menghindari adanya celah udara. Media pemadatan harus dapat dibuat kedap udara untuk keberhasilan proses fermentasi, karena proses fermentasi dapat terjadi apabila tidak ada kontaminasi oksigen yang berasal dari udara luar.
Pemeraman dilakukan dengan waktu 7 hingga 21 hari, tergantung pada starter probiotik yang digunakan. Complete feed fermentasi dapat dimanfaatkan untuk beberapa bulan bahkan beberapa tahun ke depan selama keadaan media penyimpanan tetap anaerob.
Complete feed fermentasi dapat disimpan hingga tiga tahun selama keadaan tetap anaerob, sehingga pemberian complete feed fermentasi yang berkelanjutan dapat meminimalkan anggaran pakan dan tenaga kerja. Diharapkan dapat membantu program pemerintah dalam swasembada daging dan susu berkelanjutan. (*)
Editor : Sevtia Eka Novarita