JOGJA - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jogjakarta mengungkapkan potensi suhu di DIJ bisa mencapai terendah 18 derajat celcius. Salah satu penyebabnya karena adanya aktivitas dua bibit siklon. Kondisi tersebut berpengaruh terhadap kondisi cuaca dan dapat membuat suhu udara lebih dingin dibandingkan biasanya.
Kepala Stasiun Meteorologi BMKG Jogjakarta Warjono mengatakan, berdasarkan analisis dinamika atmosfer terkini pihaknya memantau ada bibit siklon 90S di Samudera Hindia sebelah barat Pulau Sumatera. Serta bibit siklon 96 di perairan sebelah timur Filipina.
“Kondisi ini mempengaruhi pola angin di wilayah Jawa termasuk DIJ, sehingga kemungkinan didominasi angin timuran,” ujar Warjono dalam pesan singkatnya, Rabu (16/7).
Sebagai informasi, angin timuran atau monsun Australia merupakan salah satu tanda mulai masuknya puncak musim kemarau. Angin tersebut dapat membuat suhu udara lebih dingin karena bersifat kering dan tidak membawa massa uap air. Meskipun sudah memasuki puncak musim kemarau.
Warjono menyebut, sifat musim kemarau tahun ini cenderung basah. Sehingga masih ada potensi turun hujan dengan intensitas ringan hingga sedang di Sleman dan Kulonprogo.
Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Jogjakarta Reni Kraningtyas menambahkan, selain disebabkan oleh angin timuran, suhu dingin atau bediding di DIJ juga dikarenakan beberapa faktor.
Misalnya karena kandungan air di dalam tanah mulai menipis yang dibuktikan dengan rendahnya kelembaban udara.
Kemudian, bediding juga dapat disebabkan karena tutupan awan yang relatif sedikit. Sehingga membuat pantulan panas dari bumi yang diterima dari sinar matahari tidak tertahan oleh awan dan langsung terhempas ke atmosfer.
Reni menyebut, suhu terendah di DIJ bisa mencapai 18 derajat celcius. Fenomena itu juga diprediksi dapat terus terjadi dari Juli hingga Agustus mendatang atau selama memasuki musim kemarau.
“Selama fenomena bediding, kami himbau masyarakat menggunakan pakaian hangat dan tebal,” pesan Reni. (inu)
Editor : Heru Pratomo