Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pengamat Sosiologi UNY Sebut Ampo Bukan Sekadar Kudapan, tapi Kritik Sosial dan Budaya

Fahmi Fahriza • Minggu, 13 Juli 2025 | 16:10 WIB

 

Grendi Hendrastomo - Dosen Departemen Pendidikan Sosiologi UNY
Grendi Hendrastomo - Dosen Departemen Pendidikan Sosiologi UNY

RADAR JOGJA - Ampo, makanan tradisional yang terbuat dari tanah liat murni masih menjadi bagian dari budaya kuliner unik di Indonesia. Dosen Departemen Pendidikan Sosiologi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Grendi Hendrastomo menilai, ampo memiliki nilai budaya yang erat kaitannya dengan sejarah sosial masyarakat.


Menurutnya, ampo sudah ada sejak lama dan menjadi warisan budaya yang layak dilestarikan. "Apa pun bentuknya dan bagaimana pun situasinya. Satu sisi itu bagian dari upaya untuk tetap dipertahankan," kata Grendi kepada Radar Jogja, Jumat (11/7).

Baca Juga: EFH 2025 UNY Bawa Praktik Literasi  Bahasa Inggris sejak Dini, Ajak Anak Jelajahi Sains dan Teknologi  
Ia berspekulasi bahwa kemunculan ampo pada masa lampau tak lepas dari kondisi sosial masyarakat yang penuh keterbatasan. Tanah liat yang diolah menjadi makanan bukan hanya soal bertahan hidup, tetapi juga menyimpan makna simbolis sebagai bentuk kritik sosial.


"Ini bisa saja bagian dari perlawanan yang menunjukkan bahwa mereka tidak punya apa-apa atau minus. Sampai tanah liat dibuat makanan," ujarnya.

Baca Juga: Inovasi Mahasiswa UNY untuk Mengatasi Limbah Industri, Ubah Kulit Singkong Jadi Karbon yang Efektif Serap Logam Berat
Keunikan lainnya, kata Grendi, terletak pada fenomena romantisasi masa lalu oleh sebagian orang yang pernah mengonsumsi ampo di masa sulit. Ketika taraf hidup mereka membaik, muncul kerinduan untuk kembali mencicipi ampo sebagai bentuk nostalgia.


Ia menyadari hal itu di banyak hal. Ketika kita sudah sukses, ada perasaan ingin romantisasi atau mengembalikan pengalaman yang dulu pernah dilakukan saat masih di bawah. Dan, ia rasa itu juga terjadi pada Ampo ini.


"Memang ada konsekuensi teoritis, ketika kamu makin sukses, kamu ingin kembali ke masa anak-anak, masa kecil, masa struggle," terangnya.

Baca Juga: Mengenal Elza Amalia, Petani Hidroponik Gen Z dari Semin Awalnya FOMO dengan Bibit Seharga Rp 50 Ribu
Sementara itu, tren anak muda yang ingin mencoba ampo karena rasa penasaran atau fear of missing out (FOMO) dinilai Grendi hanya bersifat kasuistik. Menurutnya, mencoba sekali dua kali mungkin saja, tetapi belum tentu menjadi kebiasaan.


Dengan sejarah panjang dan makna simbolisnya, ampo bukan sekadar kudapan unik. Tetapi juga cermin dari kisah perjuangan dan kondisi sosial masyarakat pada masanya. (iza/laz)

Editor : Herpri Kartun
#kritik sosial #Budaya #fomo #UNY #ampo #sosiologi