Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kasus Kematian Tinggi, Dewan Dorong Pemkot Jogja Gencarkan Edukasi Leptospirosis

Iwan Nurwanto • Sabtu, 12 Juli 2025 | 04:45 WIB
Ilustrasi Leptospirosis. (Dimas Pradipta/JawaPos.com)
Ilustrasi Leptospirosis. (Dimas Pradipta/JawaPos.com)

JOGJA - Tingginya kasus kematian akibat leptospirosis menjadi sorotan bagi legislatif di Kota Jogja. Komisi D DPRD Kota Jogja yang menjadi mitra dinas kesehatan (dinkes) pun mendorong agar sosialisasi dan edukasi terhadap penyakit yang disebarkan lewat tikus itu bisa lebih gencar dilakukan.

Ketua Komisi D DPRD Kota Jogja Darini mengatakan, gencarnya sosialisasi tentang leptospirosis penting dilakukan karena ada sebagian masyarakat yang belum memahami tentang gejala awal penyakit tersebut. Sehingga meski sudah terjangkit, terkadang banyak penderita yang cenderung mengabaikan. Lalu berujung kematian karena terlambat dibawa ke fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes).

Politisi PDI Perjuangan itu berharap, Dinkes Kota Jogja bisa mengoptimalkan peran kader-kader kesehatan yang saat ini tersebar di seluruh kelurahan untuk mengedukasi masyarakat. Sehingga keterlambatan penanganan yang menjadi penyebab kematian akibat leptospirosis pun tidak terus terulang.

“Sosialisasi perlu lebih masif, terutama pada wilayah kumuh atau yang banyak populasi tikus,” ujar Darini saat dikonfirmasi lewat sambungan telepon Jumat (11/7).

Darini menilai, tuas kejadian luar biasa (KLB) juga belum saatnya ditarik meski sudah ada enam kematian akibat leptospirosis. Lantaran legislatif masih optimistis, wabah penyakit bisa tertangani. Dengan catatan, pemkot lebih serius.

Pun menurutnya, kepala daerah di Kota Jogja juga sudah mengeluarkan Surat Edaran Nomor 100.3.4 / 2407 Tahun 2025 tentang Kewaspadaan Kejadian Leptospirosis dan Hantavirus. Kebijakan tersebut sudah bisa menjadi pesan bagi semua organisasi perangkat daerah (OPD) untuk bersama-sama menangani wabah penyakit zoonosis tersebut.

“Harus ada media-media lain untuk membantu penanganan leptospirosis ini,” pesan Darini.

Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan Pengendalian Penyakit, Pengelolaan Data dan Sistem Informasi Dinkes Kota Jogja Lana Unwanah mengklaim, pihaknya sudah cukup rutin melakukan sosialisasi terkait dengan leptospirosis. Sasarannya adalah kelompok berisiko. Seperti petani, pekerja perkebunan, petugas kebersihan, dan masyarakat yang beraktivitas pada genangan air.

Lana menyebut, koordinasi lintas OPD juga sudah dilakukan. Misalnya dengan dinas perdagangan, untuk mewujudkan pasar tradisional yang bersih dan sehat. Serta dinas lingkungan hidup untuk mengoptimalisasi pengelolaan sampah agar tidak menjadi tempat bersarang tikus.

Kemudian untuk upaya lain, Dinkes Kota Jogja juga melakukan disinfeksi pada tempat tinggal penderita leptospirosis. Serta memasang perangkap tikus di sekitar tempat tinggal penderita yang meninggal dunia.

“Tikus yang tertangkap kami bawa ke laboratorium untuk memastikan kandungan bakterinya,” jelas Lana. (inu/eno)

Editor : Sevtia Eka Novarita
#penderita #Kota Jogja #dprd kota jogja #kejadian luar biasa #Legislatif dan Eksekutif Tabanan #edukasi #zoonosis #Pemkot Jogja #klb #Dinkes Kota Jogja #leptospirosis