JOGJA - Fenomena bediding kembali terjadi. Kepala Stasiun Klimatologi (BMKG) Jogjakarta Reni Kraningtyas menyebut fenomena suhu udara menjadi lebih dingin lumrah terjadi ketika memasuki puncak musim kemarau.
”Pada periode ini wilayah DIY didominasi angin timuran atau monsun Australia yang bersifat kering dan tidak membawa uap air,” kata Reni dalam keterangannya kemarin (10/7).
Udara dingin, kata Reni, juga bisa disebabkan faktor menipisnya kandungan air di dalam tanah. Tutupan awan juga relatif sedikit. Kondisi itu membuat pantulan panas bumi yang diterima dari sinar matahari tidak terhalangi awan.
Dari pantauan BMKG, Reni menyebut, suhu terendah di DIY dalam beberapa hari terakhir mencapai 20 hingga 22 derajat celcius. Bahkan bisa lebih rendah tergantung kondisi atmosfer.
”Selama sepekan terakhir suhu terendah pada hari Kamis (kemarin). Suhunya 20 derajat celcius pada malam hari,” sebutnya.
Berdasar catatan BMKG, suhu terendah di DIY saat bediding terjadi pada 2008. Suhu di Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman saat itu 16,6 celcius.
Apakah kejadian 17 lalu itu bisa terulang? Reni pesimistis. Sebab, wilayah DIY menghadapi musim kemarau basah. Suhunya hanya sekitar 18 hingga 19 derajat celcius.
Kendati begitu, Reni mengimbau masyarakat melakukan upaya antisipatif menghadapi fenomena bediding. Caranya dengan menjaga perilaku hidup bersih dan sehat. Serta mengkonsumsi vitamin, meminum air yang cukup, dan menggunakan pakaian hangat. Agar kesehatan tetap terjaga.
”Suhu terdingin akan terjadi pada bulan Juli-Agustus, saat memasuki puncak musim kemarau,” tambahnya.
Terpisah, Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi Dinas Kesehatan Kota Jogja Endang Sri Rahayu meminta agar masyarakat mewaspadai potensi penyebaran beberapa jenis penyakit saat musim kemarau. Misalnya, infeksi saluran pernapasan akut, pneumonia, dan diare.
“Penting bagi masyarakat agar minum air minimal delapan gelas sehari meskipun tidak dalam kondisi haus. Kemudian juga menghindari minum es,” pesannya. (inu/zam)
Editor : Herpri Kartun