JOGJA - Tugas Palang Merah Indonesia (PMI) bukan hanya terkait donor darah. Ada ketugasan lain yang selama 80 tahun berdiri sudah dilakukan. Tapi karena belum tercatat dengan baik, membuat PMI Kota Jogja menginisiasi pembentukan buku Dasa Windu PMI Yogyakarta.
Sebuah foto lama tentang Maklumat nomor 6 tanggal 17 Oktober 1945 tertulis Djawatan Kesehatan, Palang Merah Indonesia dan badan serta ahli-ahli kesehatan lainnya dalam daerah kami berada supaya dengan segera membentuk gerombolan-gerombolan tempat pertempuran. Maklumat tersebut ditandatangani oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan KGPAA Paku Alam VIII.
Foto yang tersimpan di Benteng Vredeburg tersebut menjadi salah satu bukti peran PMI di era perjuangan. "Itu jadi bukti kegiatan kepalang merahan itu termasuk saat perang dan bencana, tidak hanya soal donor darah," ujarnya di sela rapat pleno Penyusunan Buku Sejarah 80 Tahun PMI Yogyakarta di kantor PMI Kota Jogja, Kamis (7/10).
Haka mengaku didawuhi Ketua PMI DIY GBPH Prabukusumo untuk menyusun buku sejarah yang akan menjadi hadiah istimewa untuk HUT ke-80 PMI. Berbagai peran yang sudah dilakukan PMI Yogyakarta, termasuk saat pandemi Covid-19 lalu pun disiapkan. Tujuannya tak lain untuk mengumpulkan dan mengkodifikasi secara hukum seluruh catatan sejarah PMI di Yogyakarta.
"Paling tidak kita di PMI Kota itu punya catatan siapa tahu generasi berikutnya membaca itu sejarahnya runtut," kata Haka
Saat ini, lanjut mantan Kapolda DIY itu, catatan dan dokumen kepalang merahan masih berserakan dan belum terintegrasi.
Karena itu penyusunan buku sejarah yang tersusun rapi ini akan sangat memudahkan masyarakat dalam mencari informasi tentang PMI, bahkan bagi dunia pendidikan yang ingin melakukan penelitian.
"Momen ulang tahun ke-80 ini menjadi kesempatan emas untuk mengumpulkan dan menyusunnya menjadi sebuah buku,” ujarnya.
Sementara itu, GBPH Prabukusumo menambahkan, PMI Yogyakarta menjadi salah satu yang pertama terbentuk di Indonesia pada 1945 silam. Penyusunan buku dirasa sangat penting pada momen 80 tahun sebagai penanda bagi generasi berikutnya.
Termasuk peran ayahnya Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Adipati Pakualaman KGPAA Paku Alam VIII yang malah sempat aktif di PMI pusat. "Awalnya kami temukan lembaran dokumen penting yang kemudian memantik untuk membuat buku,” jelasnya.
Editor : Heru Pratomo