JOGJA - Fenomena bediding kembali terjadi di wilayah DIY.
Kondisi tersebut membuat suhu udara menjadi cukup dingin dalam beberapa hari terakhir ini.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta pun mengungkap penyebabnya.
Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta Reni Kraningtyas mengatakan, fenomena bediding memang lumrah terjadi ketika memasuki puncak musim kemarau.
Sebab pada periode tersebut biasanya wilayah DIY didominasi angin timuran atau monsun Australia yang bersifat kering dan tidak membawa uap air.
Kemudian udara dingin juga bisa disebabkan karena faktor menipisnya kandungan air di dalam tanah.
Serta tutupan awan yang relatif sedikit, sehingga membuat pantulan panas dari bumi yang diterima dari sinar matahari tidak tertahan oleh awan.
Reni menjelaskan, berdasarkan pantauan pihaknya selama beberapa hari terakhir suhu terendah di DIY mencapai kisaran 20 hingga 22 derajat celcius.
Namun kemungkinan bisa lebih rendah tergantung kondisi atmosfer.
Adapun selama sepekan terakhir suhu terendah tercatat pada Kamis (9/7/2025) dengan suhu 20 derajat celcius pada malam hari.
Sementara untuk suhu tertinggi pada Senin (7/7/2025) dengan suhu 31 derajat celcius pada siang hari.
“Suhu udara dingin atau istilah umum di masyarakat Jawa dikenal dengan mbediding biasanya terjadi saat musim kemarau,” ujar Reni saat dikonfirmasi, Kamis (10/7/2025).
Berdasarkan pengalaman fenomena bediding, BMKG menyebut wilayah Yogyakarta pernah menghadapi suhu terendah pada 2008.
Tepatnya di kapanewon Gamping, kabupaten Sleman dengan catatan suhu 16,6 celcius.
Sementara untuk tahun ini, menurut Reni, kemungkinan kecil untuk mencapai suhu rendah seperti 17 tahun lalu.
Sebab wilayah Yogyakarta tengah menghadapi musim kemarau basah dan kisaran suhu terendah berada pada 18-19 derajat celcius.
Selama menghadapi fenomena bediding, dia pun meminta agar masyarakat melakukan upaya antisipatif terhadap masalah kesehatan.
Yakni dengan melakukan perilaku hidup bersih (PHBS).
Serta mengkonsumsi vitamin, meminum air dalam jumlah yang cukup, dan menggunakan pakaian hangat.
“Suhu terdingin akan terjadi pada bulan Juli-Agustus, saat memasuki puncak musim kemarau,” ungkap Reni.
Sementara itu, Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi Dinkes Kota Jogja Endang Sri Rahayu meminta agar masyarakat mewaspadai potensi penyebaran beberapa jenis penyakit saat musim kemarau.
Misalnya seperti infeksi saluran pernafasan akut, pneumonia, dan diare.
Baca Juga: Balerina Muda Indonesia Wakili Tanah Air di Ajang Balet dan Fotografi Internasional
“Penting bagi masyarakat agar minum air minimal delapan gelas sehari meskipun tidak dalam kondisi haus."
"Kemudian juga menghindari minum es, menghisap rokok, serta melakukan olahraga teratur,” pesannya. (inu)
Editor : Iwa Ikhwanudin