RADAR JOGJA - Insiden penganiayaan terhadap seorang mitra pengemudi ShopeeFood di Sleman yang viral di media sosial beberapa hari terakhir, menjadi sorotan nasional dan mengundang keprihatinan luas. Kasus ini dipicu oleh keterlambatan pengantaran makanan yang berujung tindakan kekerasan dari seorang pengguna layanan terhadap mitra pengantar.
Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Widya MataramJogjakarta Antonius Satria Hadi menilai, insiden ini mencerminkan rapuhnya etika konsumen dalam ekosistem layanan digital.
Ia menyebut peristiwa ini sebagai pengingat keras terhadap pentingnya membangun ekosistem ekonomi digital yang tidak hanya efisien, tetapi juga berlandaskan empati dan keadilan.
"Layanan digital itu bukan semata transaksi, tapi pengalaman antarmanusia. Ketika ekspektasi tidak realistis bertemu kegagalan komunikasi, maka celah konflik terbuka lebar," ujar Antonius kepada Radar Jogja, Selasa (8/7).
Insiden itu akhirnya juga memicu aksi solidaritas dari komunitas driver layanan digital, yang ramai menyuarakan perlindungan terhadap rekan mereka melalui media sosial dan forum daring. Selain itu banyak juga warganet yang menyayangkan sikap arogan konsumen dan mendesak ShopeeFood untuk memberikan perlindungan yang lebih jelas bagi mitra kerja mereka.
Menurut Antonius, kasus ini menjadi pelajaran penting bagi perusahaan digital bahwa kekuatan media sosial tak hanya soal promosi, tetapi juga bisa menjadi bumerang reputasi. Dokumentasi insiden yang tersebar luas memperlihatkan bagaimana persepsi publik dibentuk bukan lagi oleh iklan, tapi pengalaman nyata para pengguna dan mitra layanan.
"Viralitas itu pedang bermata dua. Reputasi merek bisa runtuh dalam hitungan jam kalau krisis tidak ditangani dengan cepat dan adil," tambahnya.
Teknologi dan efisiensi penting, tetapi tidak bisa berdiri sendiri tanpa dilandasi empati, komunikasi setara, dan perlindungan yang adil bagi seluruh pihak.
Ia juga mendorong adanya literasi layanan digital bagi konsumen agar memahami batas dan risiko layanan berbasis aplikasi. Selain itu menyadari bahwa setiap klik memiliki konsekuensi sosial.
"Kalau mau ekosistem digital yang sehat, kita harus bangun ulang kepercayaan, empati, dan etika. Ini bukan cuma soal layanan cepat, tapi juga membangun peradaban digital yang manusiawi," tandasnya. (iza/laz)