Sebab Kehadiran alat tersebut diklaim cukup efektif untuk mengurangi pencemaran sungai.
Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo mengatakan, sampai saat ini baru ada empat titik trash barrier. Dua di antaranya berada di aliran Sungai Code.
Sementara dua sisanya terpasang di Sungai Winongo.
Hasto menyatakan, pihaknya akan kembali menambah sebanyak lima titik trash barrier pada tahun ini.
Sehingga di akhir tahun mendatang harus sudah ada sembilan trash barrier agar sampah dari hulu hingga hilir bisa terkelola dengan baik.
“Sekarang yang terpasang sudah empat, sampai Desember harus sembilan,” ujar Hasto di sela kegiatan peresmian trash barrier dan aksi bersih sungai di Kampung Bintaran, Wirogunan, Mergangsan pada Minggu (6/7/2025).
Selain menambah jumlah trash barrier, mantan Bupati Kulonprogo periode 2011-2019 itu juga berencana untuk menambah jumlah petugas pembersih sungai atau ulu-ulu.
Agar sampah sungai yang sudah tertahan di trash barrier bisa langsung diangkat.
Dia pun mengklaim, empat titik trash barrier yang sudah terpasang cukup efektif untuk mencegah pencemaran sumber daya air di Kota Jogja.
Sekaligus dapat menjadi upaya mendisiplinkan masyarakat agar tidak membuang sampah ke sungai.
“Satu trash barrier ini setidaknya bisa menahan sampah sebanyak 30 bagor (karung),” katanya.
Dikonfirmasi terkait dengan rencana penambahan trash barrier, Kepala Bidang Perencanaan dan Pengendalian Lingkungan Hidup Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Jogja Very Tri Jatmiko mengaku belum mengetahui secara rinci.
Dikarenakan masih dilakukan pemetaan lokasi terlebih dahulu.
“Akan di survey dulu,” ungkapnya.
Salah satu ulu-ulu Sungai Code, Dwi Agus Pramujiyanto membeberkan, dalam sehari sedikitnya ada 120 sampai 200 kilogram sampah yang bisa diangkut dari trash barrier.
Jenis sampahnya pun beragam. Ada organik maupun anorganik.
Selama bertugas menjadi ulu-ulu, Dwi mengaku tidak mengalami kendala berarti. Sebab fasilitas alat pelindung diri seperti sepatu dan sarung tangan sudah disediakan.
Kemudian armada pengangkut berupa kendaraan bermotor roda tiga juga sudah ada.
“Kendalanya banyak sampah sungai yang sulit diolah, seperti popok dan kasur,” beber Dwi. (inu)
Editor : Bahana.