JOGJA - Warga RW 09 Pringgokusuman, Gedongtengen, Kota Jogja menolak beroperasinya kembali SPBU Gedongtengen di Jalan Letjen Suprapto. Sebab warga masih trauma dengan adanya beberapa kali kejadian kecelakaan di stasiun pengisian bahan bakar minyak tersebut.
Ketua RW 09 Pringgokusuman Heri Santosa mengatakan, ledakan di SPBU Gedongtengen sudah terjadi tiga kali tahun ini. Peristiwa ledakan terakhir terjadi pada 27 Mei lalu, mengakibatkan korban jiwa mencapai delapan orang.
Baca Juga: Tekanan Batin, Lansia Nekat Ceburkan Diri di Pantai Parangtritis, Datang dari Klaten Naik Ojek
Selain menimbulkan korban jiwa, kata Heri, dampak ledakan juga membuat rumah warga di sekitar SPBU Gedongtengen rusak. Misalnya berupa genting rontok, kaca pecah, dinding rumah retak, hingga perabotan rumah tangga yang jatuh karena efek ledakan.
Oleh karena itu, warga RW 09 Pringgokusuman pun tegas menolak SPBU Gedongtengen beroperasi kembali. Bentuk penolakan dilakukan warga dengan memasang spanduk di sekitar lokasi SPBU yang bertuliskan “Kami Warga RW 09 Pringgokusuman Menolak Tegas Beroperasinya SPBU Gedongtengen”.
Baca Juga: 7 Cara Sederhana untuk Membantu Tidur Lebih Cepat dan Nyenyak
Heri mengaku, warga juga sudah beraudiensi dengan kepala daerah terkait dengan penolakan tersebut. Bahkan dia mengklaim, sudah mendapat dukungan. Sehingga dia memastikan, bakal menyegel SPBU Gedongtengen jika masih nekat beroperasi. “Warga tidak mau mati konyol karena kebakaran,” ujar Heri saat dikonfirmasi Rabu (2/7).
Sementara itu, Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo menyatakan, pihaknya sudah menindaklanjuti aduan dari warga RW 09 Pringgokusuman terkait dengan penolakan SPBU Gedongtengen. Dia pun mengaku telah berkoordinasi dengan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jogja untuk menunda operasional SPBU.
Hasto menilai, harus ada jaminan keamanan yang diberikan oleh pengelola SPBU Gedongtengen. Apalagi dia juga menerima laporan permasalahan lain dari warga. Seperti adanya pencemaran air sumur yang diakibatkan dari operasional SPBU. “Tiga kali loh meledaknya dan warga terganggu, merasa tidak aman. Sehingga harus ada jaminan,” tegas Hasto. (inu/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita