JOGJA - Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja kembali menggulirkan rencana menjadikan Malioboro sebagai kawasan full pedestrian.
Artinya, tidak ada lagi aktivitas kendaraan bermotor di sepanjang lokasi yang selama ini menjadi destinasi wisata favorit di Yogyakarta tersebut.
Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo mengatakan, tahun ini pihaknya akan melakukan uji coba bebas kendaraan di sepanjang Jalan Malioboro.
Kebijakan tersebut, menurutnya, untuk mendukung kawasan sumbu filosofi yang sudah ditetapkan oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO).
Sekaligus, diharapkan dapat menghidupi para pelaku usaha yang tidak menggunakan kendaraan bermotor.
Misalnya tukang becak kayuh, karena jika Malioboro bebas kendaraan maka jasa mereka yang akan dicari-cari oleh wisatawan.
“Tahun ini harus diujicobakan, kan cita-citanya memang begitu sumbu filosofi, 2025 dipatok harus car free everyday,” ujar Hasto saat ditemui di Balai Kota Jogja pada Selasa (1/7/2025).
Mantan Bupati Kulonprogo periode 2011-2019 itu menyampaikan, seiring dengan penerapan Maliboro sebagai kawasan full pedestrian.
Pihaknya juga akan membatasi kendaraan besar seperti bus-bus wisata untuk parkir di TKP Senopati.
Kebijakan itu diambil untuk mengantisipasi terjadinya kemacetan pada jalan-jalan utama dan jalur wisata yang berada di dalam Kota Jogja.
Guna mendukung rencana tersebut, kata Hasto, pemkot akan memulai pembangunan Terminal Giwangan.
Jika sudah selesai, maka di terminal tersebut juga akan disediakan fasilitas berupa shuttle bus untuk mengantarkan wisatawan ke destinasi-destinasi wisata yang ada di Kota Jogja.
“Tahun ini akan mengawali pembangunan di Giwangan, semoga tahun depan bisa mengalihkan parkirnya tidak lagi di Senopati,” ungkapnya.
Sementara itu, Ketua Paguyuban Becak DIY Parmin menyampaikan, bahwa adanya kendaraan modern bermesin memang cukup berpengaruh terhadap pendapatan tukang becak kayuh wisata di Malioboro.
Lantaran aksesibilitasnya yang lebih cepat dan mudah didapatkan oleh wisatawan.
Dia pun mencontohkan pada musim libur panjang sekolah tahun ini.
Menurutnya, jumlah wisatawan yang menggunakan jasa tukang becak kayuh tidak terlalu banyak.
Selain karena masifnya penggunaan kendaraan modern, kunjungan wisatawan yang tidak terlalu besar pada momen libur panjang juga cukup berpengaruh terhadap pendapatan tukang becak kayuh.
“Libur panjang sekolah ini sehari mendapatkan Rp. 100 ribu itu tidak ada,” terang Parmin. (inu)
Editor : Iwa Ikhwanudin