JOGJA - Berdirinya Taman Budaya Embung Giwangan (TBEG) di Kota Jogja diharapkan menjadi wadah atau ruang berekspresi bagi masyarakat Kota Jogja. Selain itu proyek yang juga didukung oleh dana keistinewaan (danais) diharapkan bisa menjadi tujuan wisatawan dan meningkatkan sektor perekonomian warga setempat.
"TBEG sebagai salah satu ruang publik yang merepresentasikan Keistimewaan DIY," ujar Kepala Subbidang Pengendalian Urusan Kebudayaan Paniradya Kaistimewan DIY Valentinus Budi Santoso Rabu (25/6).
Baca Juga: Setelah Tunggu Puluhan Tahun, Akhirnya 102 Orang Tenaga Guru Honorer di Sleman Diangkat PPPK
Dia menyebut, TBEG dapat diakses oleh seluruh masyrakat Kota Jogja. Terlebih para kelompok-kelompok seni yang ingin berekspresi dan melakukan pelestarian budaya.
Dinilai potensial, danais pun digelontorkan untuk TBEG. Dalam hal pembangunan infrastruktur dan program kegiatan.
"2024 ada sekitar Rp 650 juta. Kemudian 2025 ada sekitar Rp 1,1 miliar yang dialirkan di sana. Total keseluruhan ada sekitar 1,7 miliar," bebernya.
Tak hanya pelaku seni, dia berharap ekosistem perekonmian warga sekitar juga dikut terdongkrak naik. Sebab setiap even yang digelar di TBEG mampu menyedot banyaknya pengunjung. Hal ini pun bisa menjadi pangsa pasar pelaku UMKM sekitar.
"Kami berharap TBEG mampu menampung UMKM agar membentuk simpul ekonomi kreatif dengan kolaborasi dengan UMKM setempat," harapnya.
Kepala Dinas Kebudayaan (Disbud) Kota Jogja Yetti Martanti menyampaikan, pembangunan TBEG dilakukan secara bertahap. Pada 2014, dimulai dengan perencanaan. Kemudian infrastruktur mulai dibangun pada 2019.
"Selesai 2024, hadir sebagai ruang publik baru," ujarnya.
Menurutnya TBEG juga menjadi salah satu pengungkit pembangunan pariwisata di wilayah Jogja sisi selatan. Selama ini wisatawan terpusat di area Malioboro. Maka adanya TBEG diharapkan menjadi dampak yang baik bagi Kota Jogja dan menjadi pilihan masyarakat untuk beraktivitas khususnya seni budaya.
"Fasilitas pendukung sudah lengkap dan diresmikan Pak Gubernur DIY 23 Mei 2025," ucapnya.
Setelah bisa dipergunakan, bahkan sebelum diresmikan, dia mencatat sudah ada sekitar 100 kegiatan seni dan budaya yang terlaksana di TBEG. "Kalau sekarang juga sudah ada pertunjukan reguler di sana," lontarnya.
Ketua Dewan Kebudayaan Kota Jogja Ki Priyo Dwiarso menyebut, TBEG telah lama dinanti oleh warga Kota Jogja. Khususnya para pegiat seni. Sebab setelah wadah berkesenian gedung Seni Sono ditutup, ruang berekspresi di Kota Jogja terbatas. "Hanya ada Taman Budaya Yogyakarta (TBY) saja yang ada di pusat kota," ujarnya.
Kehadiran TBEG dinilai menjadi semangat para pelaku seni untuk lebih produktif. Sesuai dengan amanat gubernur DIY, kegiatan seni atau destinasi sebisa mungkin tersebar di seluruh DIY. Tdak hanya terpusat di satu titik.
"Dewan kebudayan sudah menyiapkan lebih dari 200 kelompok seni yang mempunyai telah mengantongi nomor induk kesenian (NIK)," jelasnya.
Mereka akan menjadi pendukung program dan kegiatan yang diselenggarakan di TBEG. Kelompok seni tersebut ada di 45 kelurahan di Kota Jogja. "Nantinya itu kami arahkan sebagai kelurahan budaya," bebernya. (*/oso/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita