Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Film "Jagad'e Raminten" Karya Terakhir Bersama Hamzah Sulaiman, Janji yang Telah Ditepati

Agung Dwi Prakoso • Senin, 23 Juni 2025 | 21:28 WIB
Hamzah Sulaiman yang sedang menaiki kereta kuda bersama anak angkatnya Ratri saat proses penggarapan film dokumenter Jagad
Hamzah Sulaiman yang sedang menaiki kereta kuda bersama anak angkatnya Ratri saat proses penggarapan film dokumenter Jagad

RADAR JOGJA - Impian untuk mempertontonkan karya film Jagad'e Raminten kepada sang tokoh utama tak bisa terlaksana. Kala itu di rumah duka, tepat di samping jenazah Hamzah Sulaiman, terucap janji merampungkan film walau apapun yang terjadi.

Film dokumenter Jagad'e Raminten adalah sebuah janji sekaligus hadiah yang dipersembahkan kepada Hamzah Sulaiman. Film yang selesai digarap dan launching Minggu (22/6) itu menceritakan perjalanan panjangnya sebagai seniman dan pengusaha.

"Saat proses penggarapan, Kanjeng (panggilan akrab Raminten) selalu menanyakan kapan filmnya selesai agar bisa beliau tonton bersama," ujar Director Film Jagad'e Raminten Nia Dinata saat ditemui pasca screening film Jagad'e Raminten di Institut Francais Indonesia (IFI), Jogja, Minggu (22/6) malam.

Sembari meneteskan air matanya, ia tidak berfikiran bahwa karya tersebut akan menjadi karya terakhir yang bisa digarap langsung bersama tokoh ikonik dengan dandanan khas wanita Jawa tersebut. Pasalnya saat proses penggarapan film telah selesai lebih dari 80 persen, kabar duka disampaikan dari keluarga Hamzah Sulaiman. Pada Rabu (23/4) malam, Hamzah yang juga seorang abdi dalem Keraton Jogja dengan nama KMT Tanoyo Hamijinindyo menghembuskan nafas terakhirnya.

"Saya langsung terbang ke Jogja, saya di samping jenazah beliau mengucapkan maaf dan berjanji akan segera merampungkan filmnya," tuturnya.

Proses pembuatan film yang digawangi oleh Kalyana Shira Film tersebut dimulai pada akhir tahun 2024. Narasumber atau tokoh utama dalam film adalah Hamzah Sulaiman sendiri. Pada usia ke 75 tahunnya, ia masih bisa menceritakan perjalanan hidupnya dengan jelas di fragmen adegan dalam film.

Teh Nia, sapaan akrabnya, menegaskan walaupun Hamzah Sulaiman meninggal di waktu akhir proses penggarapan film, secara keseluruhan tidak mengubah isi dari film tersebut. Namun, terdapat scene adegan di luar skenario yang mendadak ia buat. Bahkan scene tersebut malah menjadi penguat dan pengingat yang dapat menyentuh hati para penontonya.

Pada bagian ending, terdapat tambahan adegan yakni kabar melalui pesan Whatsaap atas kepergian Hamzah Sulaiman. Adegan berikutnya adalah prosesi menjelang keberangkatan jenazah yang dilakukan oleh para keluarga dan kerabat dekat.

"Kalau isi film tidak ada perubahan, hanya ada penambahan ending. Karena saya pikir itu memang takdirnya," terangnya.

Film durasi 95 menit itu banyak membahas terkait pertunjukan seni yang digagas oleh Hamzah Sulaiman yakni Raminten Cabaret Show. Mulai dari sejarahnya, siapa saja orang yang terlibat, dinamika para pekerja seni di belakang layar hingga tanggapan orang-orang atas pertunjukan tersebut.

"Harapnnya film ini menyemangati anak angkat, para pegawai dan memberikan keyakinan bahwa warisan pertunjukan Raminten Cabaret Show akan tetap hadir dan menghidupi," katanya.

Sosok Hamzah Sulaiman yang merupakan pendiri House Of Raminten itu digambarkan sebagai orang yang dermawan kepada siapa saja yang membutuhkan. Cerita-cerita kedermawanan tersebut dihadirkan dengan komentar-komentar para karyawannya.

Ia juga menyediakan rumah bagi kaum marginal dan membekali mereka dengan keterampilan seni. Tak hanya memberi namun Raminten juga membekali.

"Kesenian Raminten Cabaret Show merupakan ruang inklusif sebagai wadah mencari rezeki oleh semua orang tanpa memandang gender dan kasta," terangnya.

Produser dan Penulis Naskah Film Dena Rachman menyampaikan bahwa Raminten adalah sosok yang memperjuangkan inklusivutas di atas panggung. Esensi sejati Raminten sebagai ikon budaya dan bisnis sekaligus sosok visioner yang membuktikan bahwa pelestarian tradisi bisa berjalan beriringan dengan inovasi dan economic empowerment.

"Yang membuat film ini semakin istimewa adalah karena merupakan persembahan terakhir, sebuah kado penuh cinta dari teman-teman dan keluarga besar untuk mendiang Hamzah Sulaiman," ujarnya. (oso)

 

Editor : Iwa Ikhwanudin
#Tokoh utama #Janji #raminten #janji ditepati #hamzah sulaiman #Jagade Raminten