JOGJA - Pemkot Jogja terus menggencarkan upaya perbaikan rumah tidak layak huni (RTLH) melalui program bedah rumah berbasis gotong royong. Kali ini, dua warga di Kampung Klitren Lor dan Kampung Pajeksan menjadi penerima manfaat program bedah rumah yang dilaksanakan Minggu (22/6).
Dua rumah warga yang diperbaiki itu milik Sultoni di Klitren Lor GK 3/211 RT 63 RW 3 dan Sarito di RT 41 RW 11 Kampung Pajeksan. Keduanya pun menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas bantuan yang diberikan.
"Saya sangat senang dengan adanya bantuan ini. Terima kasih kepada semua warga yang telah mengusulkan saya untuk menerima bantuan ini," ungkap Sultoni di sela perbaikan rumah.
Ia menyampaikan, perbaikan akan difokuskan pada rangka atap karena kayu sudah banyak yang lapuk. Selain itu pembuatan sekat ruangan, serta penggantian lantai yang masih berupa semen.
Hal senada disampaikan Sarito. "Alhamdulillah, terima kasih kepada seluruh pihak, mulai pemerintah, Baznas, dan masyarakat yang turut serta dalam bedah rumah saya. Rencananya saya akan membuat kamar dan mengganti pintu yang sudah rapuh. Semoga banyak warga lain yang juga mendapat bantuan seperti ini,” ucapnya penuh haru.
Pada kesempatan ini Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo memberikan apresiasi atas kolaborasi berbagai pihak dalam pelaksanaan bedah rumah. Menurutnya, dukungan dari Baznas hingga masyarakat sangat penting untuk mempercepat realisasi rumah layak huni bagi seluruh warga.
"Program ini bentuk gotong royong dari masyarakat untuk masyarakat. Pemerintah hanya memfasilitasi dan menggerakkan," kata Hasto.
Ia mengungkapkan, Baznas telah menyalurkan bantuan masing-masing senilai Rp 20 juta. Selain itu, ia bersama ketua DPRD Jogja dan anggota dewan Ipung Purwandari juga menyumbangkan masing-masing 20 sak semen.
"Jika ada kelebihan semen bisa ditukar dengan material lain senilai harga semen. Semuanya dikoordinasikan oleh panitia dan warga,” jelasnya.
Hasto juga menegaskan, program ini mengedepankan semangat gotong royong. Warga sekitar diimbau untuk berkontribusi sesuai kemampuan, baik berupa tenaga, bahan bangunan seperti pintu atau batako, maupun peralatan lainnya.
Dalam pelaksanaan teknis, pekerjaan dilakukan secara bergiliran. Tukang utama dibayar, namun warga tetap dilibatkan secara aktif melalui kerja bakti bergiliran.
"Segoro Amarto, Semangat Gotong Royong Agawe Majune Ngayogyakarta. Kalau tidak ada gotong royong, bagaimana? Oleh karena itu, mari kita bersama-sama. Gotong royong sedikit-sedikit, lama-lama jadi,” tandas mantan bupati Kulon Progo ini.
Wali kota juga mengingatkan rumah yang kumuh dan minim cahaya dapat menjadi penyebab penyakit seperti TBC, yang berpotensi berujung stunting pada anak-anak. Karena itu, ia menekankan pentingnya kolaborasi untuk menciptakan lingkungan hunian yang sehat.
"Anak-anak yang terkena TBC bisa berujung stunting. Mari kita cegah bersama, karena ini sangat merugikan masa depan mereka," tegas wali kota yang kemarin ikut sambatan ini. (**/laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita