JOGJ - Meski terus ditekan, angka kemiskinan di Kota Jogja masih tergolong tinggi.
Data Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) mencatat sebanyak 28.792 warga atau 12.093 kepala keluarga (KK) masih masuk dalam kategori prasejahtera dan menerima bantuan melalui program keluarga sasaran jaminan perlindungan sosial (KSJPS).
Kepala Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial Dinsosnakertrans Kota Jogja Supriyanto mengatakan, data tersebut ditetapkan melalui Keputusan Wali Kota Jogja Nomor 485 Tahun 2024.
Sebagaimana diketahui, KSJPS merupakan program perlindungan sosial yang diselenggarakan oleh Pemkot Jogja.
Program tersebut bertujuan untuk memberikan bantuan kepada keluarga yang tergolong miskin, rentan miskin, dan fakir miskin.
Meskipun jumlah penerima KSJPS tergolong cukup besar, dia mengklaim jumlah itu mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.
Sebab pada 2023 lalu masyarakat Kota Jogja yang terdaftar jaminan tersebut berjumlah sekitar 17 ribu jiwa.
“Jadi memang ada penurunan,” ujar Supriyanto saat dikonfirmasi lewat pesan singkat, Kamis (19/6/2025).
Menurutnya, penerima KSJPS juga ditentukan dalam tujuh aspek yakni memiliki kekurangan dari aspek pendapatan dan aset, papan, pangan, sandang, kesehatan, pendidikan, dan sosial.
Dinsosnakertrans Kota Jogja juga berupaya agar masyarakat penerima KSJPS tepat sasaran.
Sehingga dilakukan verifikasi rutin oleh petugas verifikator. Para verifikator pun diberi pembekalan terkait dengan aspek-aspek dan parameternya. Serta mengedepankan verifikasi yang obyektif.
Selain itu, teknis verifikasi juga wajib dilakukan secara door to door dengan menggunakan aplikasi yang sudah terintegrasi geotagging.
Dalam aplikasi tersebut juga diberikan fitur berupa tanda tangan dan foto yang wajib berlatar belakang rumah responden.
“Hal ini sebagai upaya agar hasil pendataan tepat sasaran,” terangnya.
Sementara itu, Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo mengatakan, dalam upaya penanggulangan kemiskinan tidak bisa hanya berfokus pada solusi jangka pendek seperti pemberian bantuan sosial rutin. Namun juga wajib ada bantuan produktif jangka panjang.
Beberapa program yang sudah dicanangkan Pemkot Jogja di antaranya dengan padat karya dan pemberdayaan 1.136 masyarakat miskin menjadi penggerobak sampah.
Selain itu, dilakukan pula peluncuran cap batik segoro amarto agar UMKM Kota Jogja menjadi produsen.
“Kota Jogja juga sudah ada Gandeng Gendong dan Segoro Amarto, ini semangat gotong royong yang punya makna mendalam untuk mengatasi kemiskinan,” tegasnya. (inu/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita