Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Di Jogja, Ditemukan 1.425 Kasus HIV dan 337 Kasus AIDS, Penyumbang Terbesar karena Gonta Ganti Pasangan

Iwan Nurwanto • Kamis, 19 Juni 2025 | 19:07 WIB
Ilustrasi HIV/AIDS. (Dok JawaPos)
Ilustrasi HIV/AIDS. (Dok JawaPos)

JOGJA - Kasus penyakit HIV/AIDS di Kota Jogja terbilang masih cukup banyak. HIV kepanjangan dari Human Immunodeficiency Virus, sedangkan kepanjangan AIDS adalah Acquired Immunodeficiency Syndrome. 

Hingga pertengahan tahun 2025 saja, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Jogja mencatat ada 1.425 kasus HIV dan 337 kasus di antaranya sudah masuk tingkat keparahan lebih tinggi atau AIDS.

Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi Dinkes Kota Jogja Endang Sri Rahayu mengatakan, masih tingginya kasus HIV/AIDS di Kota Jogja disebabkan berbagai faktor. Pertama, disebabkan karena mulai masifnya pencarian kasus dengan melakukan tes terhadap populasi rentan dan atas indikasi medis.

Kemudian, juga masih dilakukannya hubungan seksual berisiko dengan berganti-ganti pasangan. Lalu minimnya pemahaman masyarakat terhadap HIV/AIDS. Serta masih ditemukannya penularan HIV dari ibu hamil kepada anaknya.

“Temuannya banyak karena memang dicari,” ujar Endang saat dikonfirmasi, Kamis (19/6/2025).

Endang menyebut, aktivitas berganti-ganti pasangan atau heteroseksual diketahui menjadi penyumbang terbesar kasus HIV/AIDS di Kota Jogja. Prosentasenya sebesar 45 persen dari total 1.425 kasus.

Kemudian penyumbang terbesar kedua aktivitas lelaki seks dengan lelaki (LSL). Penyimpangan seksual tersebut diketahui menyumbang hingga 25 persen dari total temuan kasus HIV/AIDS di Kota Jogja.

Sementara dari kategori usia, mayoritas merupakan usia produktif dengan latar belakang penderita terbanyak berasal kalangan wiraswasta. Sementara untuk jenis kelamin paling banyak merupakan laki-laki dengan prosentase 60 persen dan 40 persen sisanya perempuan.

Baca Juga: ASN Pemkab Malang Belajar Pengelolaan BLUD Berbasis Elektronik Langsung ke Purworejo

“Sehingga upaya pengendalian dan penanganannya harus serius dan sistematis,” terang Endang.

Sementara itu, Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo menyampaikan, penanggulangan HIV/AIDS di Kota Jogja harus terus dilakukan. Sebab dengan tidak adanya kasus penyakit tersebut akan mendukung program pembangunan keberlanjutan. 

Oleh karena itu perlu upaya cepat agar target penanggulangan HIV/AIDS dengan strategi 95-95-95 bisa tercapai. Hasto menjelaskan, strategi 95-95-95 merujuk pada 95 persen orang dengan HIV mengetahui statusnya. Kemudian 95 persen dari yang sudah terdiagnosis mendapatkan terapi ARV (antiretroviral) dan 95 persen dari mereka yang menjalani terapi ARV mencapai supresi virus.

Mantan Bupati Kulonprogo periode 2011-2019 itu menegaskan, strategi pemutusan rantai penularan juga harus difokuskan pada kantong-kantong populasi dengan risiko tinggi. Sekaligus dilakukan upaya pengendalian yang penanganannya serius dan sistematis.

“Ketika ada pergeseran lokasi seperti yang terjadi pasca relokasi kawasan Bong Suwung, penting untuk memetakan ulang distribusi populasi berisiko dan memastikan mereka tetap dalam jangkauan layanan,” tegas Hasto. (inu)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#aids #Kota Jogja #Human Immunodeficiency Virus #hubungan sejenis #homoseksual #Acquired immunodeficiency syndrome #HIV / AIDs #gonta ganti pasangan