Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Ingin Tenang saat Cari Nafkah, Para Driver Bajaj dan Bentor di Jogja Berharap Kejelasan Izin

Adib Lazwar Irkhami • Senin, 16 Juni 2025 | 14:20 WIB

 

Pengemudi becak motor mangkal menunggu calon penumpang di kawasan Ngasem, Kota Jogja, Minggu (15/6). Becak motor, skuter listrik, dan bajaj belum memiliki izin operasional
Pengemudi becak motor mangkal menunggu calon penumpang di kawasan Ngasem, Kota Jogja, Minggu (15/6). Becak motor, skuter listrik, dan bajaj belum memiliki izin operasional
 

JOGJA - Jalanan Jogjakarta mulai dipenuhi bajaj dalam beberapa waktu terakhir ini.  Namun di balik beroperasinya moda transportasi beroda tiga itu, kejelasan izinnya masih dipertanyakan. Para driver bajaj yang selama ini menjadi mitra pun berharap ada legalitas.

Agus Susanto, salah seorang pengemudi bajaj yang mangkal di wilayah Bumijo, Jetis, Kota Jogja mengakui operasional bajaj yang menjadi mata pencahariannya memang belum jelas. Namun terkait hal itu, menurutnya, sudah menjadi tanggung jawab Maxride selaku penyedia jasa penyewaan bajaj.

Ya, Agus dan driver bajaj lain di Jogjakarta memang selama ini menyewa kendaraan itu. Biayanya Rp 75 ribu per hari.  Sementara untuk penghitungan keuntungan, para driver mendapatkan upah dari pengguna aplikasi dengan tarif yang tergantung jarak. Satu kali perjalanan tarifnya akan dipotong 11 persen untuk jasa aplikasi, sehingga driver mendapatkan 89 persen.

Melihat berbagai polemik yang ada, pria 50 tahunan ini berharap ada kejelasan izin terkait operasional bajaj. Sehingga jasa transportasi yang menjadi salah satu mata pencahariannya bisa legal dalam operasionalnya. Sekaligus agar dia dan para driver bajaj lainnya bisa tenang dalam mencari nafkah.

"Kalau kami harapannya ya ada kejelasan izin saja. Karena kalau tiba-tiba berhenti beroperasi, kami nanti bingung juga,” ujar Agus saat ditemui Radar Jogja Minggu (15/6).

Driver bajaj lain, Agus Indaryanto juga berharap hal yang sama. Menurutnya, dengan izin yang jelas tentu membuat sopir akan lebih tenang dalam menjalankan profesinya. Walaupun diakui sampai saat ini ia juga belum pernah menghadapi kendala. Misalnya diberhentikan petugas.

Indaryanto mengaku, transportasi bajaj banyak dimanfaatkan berbagai kalangan. Misalnya pelajar yang ingin berangkat sekolah. Kemudian juga wisatawan yang ingin berkunjung ke berbagai destinasi wisata. Tak hanya itu, mahasiswa dan ibu rumah tangga pun tidak sedikit yang memanfaatkan bajaj untuk aktivitas sehari-hari.

Sama dengan driver lain, dia juga ingin agar ada legalitas dalam operasional bajaj di jalanan Jogjakarta. Sehingga bagi mitra driver dan penyedia penyewaan bajaj pun bisa sama-sama tenang.

"Operasionalnya (bajaj) kan baru dua bulan ini. Jadi lumrah kalau tidak ada izin. Maka dari itu kami berharap ada kejelasan izin," terang Indaryanto yang kerap mangkal di kawasan Tugu Jogja ini.

Sementara itu, salah seorang pengemudi becak motor (bentor) yang beroperasi di Jalan Pakuningratan, Simin menyatakan, ia sudah paham kalau kendaraannya tidak berizin. Namun dia juga tidak memikirkannya, karena bentor merupakan satu-satunya mata pencaharian.

Dia beralasan, terpaksa menggunakan bentor karena kondisi fisiknya sudah tidak kuat untuk mengayuh becak. Simin mengaku dulunya juga pengemudi becak kayuh. Namun terpaksa beralih menjadi pengemudi bentor sekitar delapan tahun terakhir.

Dia pun berharap agar bentor bisa diizinkan dan tidak dipersulit operasionalnya. "Ya, saya tahu memang tidak berizin, namun mau gimana lagi?. Daripada nggak cari uang,” beber pria yang mengaku berusia 75 tahun ini. (inu/laz)

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#transportasi #aplikasi #legalitas #Jarak #bajaj #Mitra #tarif #Jogjakarta #upah #driver