JOGJA - DIY memasuki masa peralihan musim kemarau basah. Hal ini mengharuskan petani untuk selektif memilih tanaman untuk ditanam.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DIY Syam Arjayanti menyebut, iklim yang tak menentu seperti ini tentu membuat petani dilematis. Sebab apabila menanam komoditas padi, dikhawatirkan pasokan air berkurang. Namun apabila menanam jenis palawija maupun holtikultura, juga harus memperhatikan kebutuhan air. "DIYaga airnya agar tidak terlalu menggenang, karena memang cuacanya tak menentu," tuturnya saat dikonfirmasi Rabu (11/6).
Selain jenis tanaman, petani juga harus mengantisipasi adanya hama yang berpotensi menyerang. Mulai dari tikus dan wereng yang sudah ditemukan menyerang beberapa daerah.
"Kami sudah mengadakan pengelolaan umpan terpadu (PUPT) menyusun strategi mengendalikan hama tersebut," bebernya.
PUPT adalah pendekatan yang menggabungkan berbagai aspek pengelolaan tanaman. Termasuk penggunaan pupuk, pestisida, air, dan tanah secara terintegrasi. Cara tersebut bisa menggunakan pestisida, pupuk hijau, serta penggunaan varietas tanaman yang unggul dan tahan terhadap hama maupun penyakit.
"Hama tikus kemarin ada di daerah Sleman dan Bantul, namun belum sampai menurunkan produksi," jelasnya.
Dia menyebut, terjadi peningkatan penyerangan hama terhadap tanaman petani. Namun dia memastikan, serangan tersebut belum berdampak ekstrem seperti gagal panen. Sebab produksi padi tahun ini, meningkat dibandingkan 2024. "Serapan gabah sudah mencapai 100,8 persen dari target yang ditentukan Bulog," bebernya.
Petani asal Pakem, Sleman Aris Romadhon mengatakan, sawah di wilayahnya pada peralihan musim kemarau basah masih ditanami padi. Sebab air di Pakem masih tergolong melimpah. “Jadi petani percaya tidak kekurangan air," ujarnya.
Mereka malah belum berani menanam palawija. Karena intensitas curah hujan masih tinggi. Curah hujan tersebut dikhawatirkan berdampak pada hasil panen palawija. "Hama mulai muncul wereng, regul, dan keong," sebutnya. (oso/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita