JOGJA - Dinas Koperasi dan UKM DIY terus mengupayakan agar para pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) naik kelas.
Upaya itu antara lain melalui program pendampingan dan pembinaan. Wujudnya seperti tercermin melalui penyelenggaraan workshop bertajuk “Sistemasi Bisnis Inkubasi Bisnis UMKM Naik Kelas 2025”.
“Program ini bertujua menguatkan mindset bisnis, berbagi pengalaman, dan
memberikan arahan dari para mentor kepada pelaku usaha,” ucap Kepala Dinas Koperasi dan UKM DIY Srie Nurkyatsiwi di Grage Bussines Hotel Yogyakarta Jalan Sosrowijayan, Rabu (4/6/2025).
Kegiatan tersebut melibatkan 75 orang pelaku UMKM. Mereka berasal dari
kabupaten dan kota se-DIY.
"Saat ini sedang masuk tahap mentoring yang akan dilanjutkan pada tahap kedua," kata Siwi.
Selama acara peserta dibekali sejumlah materi. Mulai soal manajemen bisnis hingga
standar operasional prosedur (SOP) perusahaan.
Dengan mengikuti workshop itu diharapkan dapat meningkatkan kapasitas pelaku UMKM. Usaha mereka terus tumbuh, semakin kuat dan berdaya.
Adapun peningkatan kemampuan itu menyangkut aspek manajemen bisnis,
pemasaran, maupun pengembangan produk. Saat kegiatan workshop inkubasi itu dibuka, peminatnya cukup banyak.
Itu terlihat dengan tingginya antusiasme pelaku UMKM mengikuti acara tersebut. Ada sebanyak 224 pendaftar. Lantaran jumlah peserta terbatas, workshop kali ini baru dapat diikuti 75 pelaku UMKM.
Ada banyak manfaat diperoleh peserta. Di antaranya, mereka dapat berbagai
pengalaman dengan pemateri yang berlatar belakang pengusaha. Sharing juga dilakukan dengan sesama pelaku UMKM.
Sedangkan pendampingan dan bimbingan langsung diberikan para mentor berpengalaman yang diperoleh secara gratis.
Paniradya Pati Paniradya Kaistimewan DIY Aris Eko Nugroho hadir sekaligus
membuka acara. Dikatakan, pihaknya selalu mendukung pengembangan UMKM melalui dana keistimewaan (danais).
Salah satunya seperti kegiatan inkubasi bisnis Dinas Koperasi dan UKM DIY yang berlangsung sejak 2023 lalu.
“Ini merupakan bentuk dukungan terhadap program peningkatan kapasitas pelaku
usaha sehingga UMKM di Jogja naik kelas,” tandas Aris.
Narasumber Henti Nikimawati menyampaikan materi soal SOP dan SOM. Untuk
diketahui SOM akronim dari standar operasional manajemen.
Kedua materi tersebut penting disampaikan sebagai bekal para pelaku UMKM agar bisnisnya lebih tersistemasi.
"Kalau masih kecil usahanya disusun SOP dan SOM agar saat tumbuh besar menjadi
semakin baik," ujarnya.
SOP bisnis diterapkan dengan tujuan agar karyawan memiliki standar dalam bekerja.
Antara SOP bisnis, produk atau output yang dihasilkan bisa selaras dengan target perusahaan.
"Sebagian dari peserta terlihat masih bingung karena hal baru. SOP biasanya
digunakan perusahaan besar," tuturnya.
Meski begitu, peserta menyambut dengan semangat karena SOP harus dipersiapkan
agar usahanya naik kelas.
Saat dibuka sesi tanya jawab, sebagai peserta mengakui belum terciptanya manajemen yang mantap di internal usaha mereka. Kebanyakan masih menjalankan usahanya secara perorangan. Mereka jadi banyak yang bertanya kenapa harus membuat SOP.
Henti sengaja menyampaikan itu agar sebagai pelaku UMKM lebih sejak dini
merancang atau mengetahui pentingnya SOP.
"Kebanyakan dari mereka masih one man show (bekerja sendiri, Red)," kata pengusaha muda yang sukses dengan produk
Nanababycarrier itu. (oso/kus)