Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Hati-Hati Cemari Lingkungan! Jangan Buang Limbah Kurban ke Sungai, Bisa Cemari Bantul: Pemkot Ajak Warga Kelola Menjadi Pupuk

Iwan Nurwanto • Selasa, 3 Juni 2025 | 03:43 WIB
Warga mengemas daging kurban menggunakan kreneng atau keranjang bambu dan daun jati, di Ngaran, Margokaton, Seyegan, Sleman, Senin (17/6). 
Warga mengemas daging kurban menggunakan kreneng atau keranjang bambu dan daun jati, di Ngaran, Margokaton, Seyegan, Sleman, Senin (17/6). 

JOGJA - Menjelang Idul Adha, Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja mengimbau masyarakat lebih bijak dalam mengelola limbah penyembelihan hewan kurban.

Salah satu yang ditekankan adalah larangan membuang limbah seperti darah dan kotoran hewan ke sungai, got, atau saluran air lainnya.

Kepala Bidang Pengembangan Kapasitas dan Pengawasan Lingkungan Hidup Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Jogja Supriyanto mengatakan, kebiasaan membuang limbah hewan kurban di sumber air dapat mencemari lingkungan. Baik itu yang dilakukan di sungai, got, maupun selokan.

“Kalau itu (limbah kurban) dikelola dengan benar seharusnya tidak menjadi sampah,” ujarnya, Senin (2/6/2025).

Supriyanto menjelaskan, cara yang lebih bijak dalam pengelolaan limbah hewan kurban bisa dilakukan dengan merubahnya menjadi pupuk.

Yakni dengan cara membuatkan lubang khusus pada tanah untuk pembuangan darah dan kotoran yang berasal dari perut hewan, kemudian ditimbun kembali.

Sebab, pembuangan limbah kurban pada aliran sungai dinilai akan berdampak buruk pada ekosistem alam. Serta dipastikan merugikan masyarakat kabupaten Bantul yang selama ini menjadi hilir sungai-sungai di Kota Jogja.

“Apabila pengelolaan limbah kurban tidak dilakukan dengan benar, maka potensi timbulan sampah juga meningkat. Sebab dalam perut satu ekor sapi setidaknya bisa menghasilkan 50 kilogram kotoran,” ujarnya.

Selain bijak dalam pengelolaan limbah, dia juga berpesan agar panitia kurban menggunakan alat pembungkus daging yang ramah lingkungan. Misalnya dapat memanfaatkan daun pisang dan daun jati yang mudah terurai.

Tak kalah pentingnya adalah, dalam pengemasan daging kurban sebelum dibagikan kepada masyarakat juga harus dipastikan kemasan daging yang berasal dari daun jati atau daun pisang tidak tercemar debu atau asap.

“Penggunaan daun menjadi salah satu solusi terbaik bagi lingkungan,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Perikanan dan Kehewanan Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kota Jogja Sri Panggarti menyampaikan, pengawasan pra penyembelihan sudah dilakukan.

Misalnya dengan mendata surat keterangan kesehatan hewan pada tempat penjualan hewan kurban yang resmi maupun dadakan.

Pihaknya juga bekerja sama dengan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kota Jogja untuk menyediakan layanan penyembelihan hewan di RPH Giwangan.

Dia pun meminta agar masyarakat dapat memanfaatkan jasa penyembelihan karena dipastikan prosesnya ASUH (aman, sehat, utuh, dan halal).

“Hewan kurban yang disembelih di RPH Giwangan dipotong oleh sumber daya manusia yang kompeten,” tegasnya. (inu/wia)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#Jangan sembarangan #buang limbah kurban #limbah kurban #aliran sungai #pupuk #idul adha #cemari lingkungan