JOGJA - Sutradara kondang Hanung Bramantyo kembali menelurkan karya yang luar biasa. Yakni berjudul Gowok “Kamasutra Jawa”.
Radar Jogja pun berkesempatan untuk mengulik dan menonton film yang diangkat dari budaya Jawa tersebut.
Adapun film Gowok “Kamasutra Jawa” mengisahkan tentang profesi seorang perempuan yang mengajarkan anak laki-laki perjaka untuk dewasa. Profesi tersebut cukup dikenal di tanah Jawa.
Baca Juga: Lebih Sederhana, Penyelenggaraan Wayang Beber Pancasila III: Tahun Ini Hanya Dihadiri Warga Sekitar
Mengambil latar belakang sebuah desa di Kebumen, Jawa Tengah. Hanung membawa penonton untuk mengenal bagaimana profesi gowok berperan cukup penting dalam menentukan seorang anak laki-laki menjadi seorang pria dewasa.
Meskipun dipandang sebelah mata karena profesi gowok hanya memiliki tanggung jawab untuk melayani laki-laki.
Suami dari Zaskia Adya Mecca itu menyiratkan pesan bahwa perempuan juga memiliki peran untuk membangun negaranya.
Contohnya, ketika pemeran Gowok bernama Ratri memberi sebagian pendapatan dari hasil meng-gowok-nya untuk membangun sekolah perempuan.
Proses perjuangan Ratri pun dikemas apik karena memperlihatkan bagaimana perempuan mendapatkan hak di tengah dominasi pria saat peristiwa 30 September 1965 atau G30S/PKI.
Hanung mengatakan, bahwa film Gowok merupakan film yang mengangkat tentang bagaimana perempuan memiliki hak untuk terpuaskan atau mencapai orgasme. Namun konteks terpuaskan bukan sekedar dalam seks saja. Tapi juga bagaimana terpuaskan hak-haknya untuk maju dan berkembang.
“Saya memang ingin menunjukkan bahwa seharusnya laki-laki memuaskan perempuan,” ujar Hanung di sela special screening Gowok yang dilaksanakan di Empire XXI, Minggu (1/6/2025).
Sebagai informasi, film Gowok dibintangi oleh Reza Rahadian, Raihaanun, Lola Amaria, Ali Fikry, Nayla Purnama, Alika Jantinia, Djenar Maesa Ayu, dan Slamet Rahardjo.
Film tersebut secara resmi tayang di bioskop secara nasional pada tanggal 5 Juni 2026.
Hanung menyatakan, melalui film Gowok dirinya juga ingin mematahkan pandangan masyarakat luas selama ini tentang kewajiban perempuan yang harus memuaskan laki-laki.
Melalui Gowok, sutradara kelahiran 1 Oktober 1975 itu ingin menegaskan bahwa perempuan punya hak untuk dipuaskan.
“Dalam budaya Jawa bahwa laki-laki harus men-treat perempuan agar orgasme dulu, sebelum laki-laki,” tegas Hanung.
Baca Juga: Gegara Lupa Cabut Charger HP, Rumah Milik Warga Bendungan Wates Dilalap Api
Adapun film Gowok juga diangkat melalui novel karya Budi Sardjono berjudul Nyai Gowok.
Hadir dalam special screening tersebut, Budi menyampaikan bahwa kisah Nyai Gowok dibuat dari pengembangan budaya Jawa.
Dalam kisah di bukunya, Gowok mengajak agar laki-laki bisa tahu mengetahui seluk beluk wanita. Sekaligus menunjukkan proses bagaimana seorang anak laki-laki berubah menjadi seorang pria dewasa.
“Gowok adalah tentang bagaimana laki-laki bisa memahami wanita,” tegas Budi. (inu)
Editor : Winda Atika Ira Puspita