JOGJA - Prevalensi stunting diklaim mengalami penurunan dalam periode satu tahun terakhir. Penurunan tersebut diklaim berkat adanya kolaborasi antar organisasi perangkat daerah (OPD) di Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja.
Wakil Wali Kota Jogja Wawan Harmawan mengatakan, pada tahun 2023 angka prevalensi stunting di wilayahnya mencapai 16,8 persen. Kemudian dapat diturunkan menjadi 14,8 persen atau berkurang dua persen pada tahun 2024.
Menurut Wawan, upaya penurunan prevalensi stunting di Kota Jogja bisa terwujud berkat adanya kolaborasi dari OPD di Pemkot Jogja. Bahkan diketahui, Kota Jogja juga merupakan kabupaten/kota di DIY dengan prevalensi stunting terendah.
“Seluruh perangkat daerah di lingkup Pemkot Jogja telah berkomitmen dalam upaya penurunan stunting,” ujar Wawan, Kamis (29/5/2025).
Beberapa program penurunan stunting yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Jogja di antaranya skrining anemia dan kesehatan yang menyasar remaja putri di sekolah. Kemudian juga ada pemeriksaan kesehatan pranikah bagi calon pengantin.
Selain itu, Dinkes Kota Jogja juga memiliki layanan konseling gizi untuk calon pengantin, lalu konseling persiapan persiapan pernikahan yang dilakukan psikolog. Serta pemberian suplemen tablet tambah darah bagi calon pengantin.
Wawan melanjutkan, bahwa Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) juga cukup berperan dalam penurunan stunting. Misalnya melalui program pendampingan pola asuh anak oleh PKK dan pendampingan calon pengantin usia dini oleh Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga).
Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertran) pun memberikan fasilitas bantuan sosial kesejahteraan keluarga. Lalu Dinas Komunikasi, Informatika, dan Persandian (Diskominfosan) dengan kampanye pencegahan stunting di berbagai media.
Selain itu, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dindikpora) juga fokus terhadap peningkatan kapasitas pendidik melalui Bimtek PAUD. Serta Dinas Pertanian Pangan (DPP) yang gencar mensosialisasikan program pangan dan gemar makan ikan dalam hal kecukupan protein.
“Upaya percepatan penurunan stunting di Kota Jogja mendapat dukungan dari lintas sektor,” terang Wawan.
Selain program-program milik OPD, Pemkot Jogja juga memiliki Segoro Bening yang menggandeng korporasi untuk menurunkan angka stunting. Yakni melalui program tanggung jawab sosial lingkungan perusahaan (TSLP) berupa pemberian makanan bergizi tambahan bagi warga Kemantren Wirobrajan.
Wawan mengklaim, program tersebut berhasil menurunkan stunting di kemantren Wirobrajan sebesar 28,7 persen. Yakni dari periode bulan Oktober 2023 sebesar 10,32 persen menjadi 7,45 persen di bulan Oktober 2024.
“Program Segoro Bening ini sudah direplikasi oleh daerah lain seperti di Kecamatan Harjamukti Kota Cirebon, Kota Semarang, dan Kabupaten Paser,” terang pasangan Hasto Wardoyo di Pilkada 2024 itu.
Sementara itu, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) DIY Ni Made Dwipanti Indrayanti mendorong agar Kota Jogja terus menurunkan prevalensi angka stunting. Serta diharapkan pada tahun ini penurunannya bisa melampaui dua persen.
Made menilai, penurunan angka prevalensi stunting sebesar dua persen memang merupakan angka yang signifikan. Dia pun memastikan bahwa Pempov DIY akan terus melakukan penilaian terhadap prevalensi stunting di kabupaten/kota.
“Sehingga kedepan angka prevalensi stunting bisa terus menurun," katanya. (inu)
Editor : Iwa Ikhwanudin