JOGJA - Belakangan masyarakat gempar dengan kehadiran patung raksasa di berbagai daerah. Misalnya patung biawak di Wonosobo (Jawa Tengah) dan patung rajawali di Indramayu, Jawa Barat. Bentuk patung yang sangat realistis itu banyak menarik perhatian dan kini menjadi ikon wilayah tempat patung itu dibuat. Bagaimana dengan Jogjakarta yang selama ini dikenal sebagai gudangnya seniman?
Purwanto, warga Jogja menilai, Tugu Golong Gilig atau lebih dikenal sebagai Tugu Jogja sudah cukup untuk menjadi penanda wilayah. Terlebih untuk Kota Jogja. Pun menurutnya, Tugu Jogja juga memiliki nilai sejarah dan selama ini dikenal luas oleh mayoritas wisatawan yang datang ke Jogjakarta.
Warga Kemantren Wirobrajan ini menyebut, kehadiran Tugu Jogja yang sudah dikenal luas itu lebih baik dipertahankan. Sementara jika ingin menegaskan Jogjakarta sebagai kota seniman dan budayawan, sejatinya pemerintah bisa mewujudkannya melalui kegiatan seni dan budaya agar para seniman patung bisa menampilkan karya-karyanya.
"Menurut saya, Tugu juga sudah cukup ikonik, sehingga lebih baik dipertahankan saja sebagai penanda wilayah,” ujar Purwanto kepada Radar Jogja Minggu (25/5).
Sementara di Kabupaten Sleman, warga Mlati bernama Puspitasari menilai, penanda wilayah untuk Bumi Sembada memang perlu diperkuat. Lantaran selama ini kabupaten ini belum memiliki ikon yang kuat karena menyebar di beberapa tempat.
Misalnya Tugu Patung Gajah di Lapangan Denggung, kemudian Tugu Udang di Kaliurang serta Tugu Elang Jawa di Pakem. Meskipun demikian, wanita 30 tahun ini menilai kondisi itu bukan sesuatu yang buruk karena menjadi penanda dalam lingkup regional.
"Kalau penanda di Kabupaten Sleman mungkin perlu diperkuat saja, karena DIY yang dikenal selama ini hanya Tugu Jogja," terang Sari, sapaannya.
Sementara itu, Paniradya Kaistimewan DIY melalui dana keistimewaan (danais) beberapa kali membangun bangunan ikonik di DIY. Pembangunan itu kebanyakan berada di tingkat kabupaten/kota.
Paniradya Pati Paniradya Kaistimewan DIY Aris Eko Nugroho mengatakan, pihaknya beberapa kali menerima pengajuan terkait pebangunan bangunan ikonik di DIY. Beberapa yang sudah terselanggara kebanyakan dalam bentuk bangunan baru yang disesuaikan gaya arsitektur Jogjakarta.
"Seperti rumah tak layak huni (RTLH), balai budaya di kalurahan dan bangunan IGD RS Grhasia," ujarnya saat dikonfirmasi Minggu (25/5).
Data terakhir tahun 2024, sekitar 324 RTLH yang dibangun dengan danais. Arsitektur rumah itu unik dan khas Jogja. Mulai pintu, jendela kayu dibuat model lama hingga pemilihan cat dengan warna hijau dan kuning khas Jogjakarta.
Selain bangunan berupa rumah, beberapa patung dan karya instalasi juga didanai melalui danais. Terbaru yakni patung kereta yang ditarik 12 kuda di Kabupaten Kulon Progo. Patung itu diproyeksikan menjadi ikon pariwisata baru yang terletak di Kawasan Taman Kulon Progo Adipura, sekitar simpang tiga Milir, Kalurahan Kedungsari, Kapanewon Pengasih. "Kalau untuk patung hewan sepertinya baru kuda di pinggir jalan Kulonprogo itu," tuturnya.
Selanjutnya juga ada pembangunan patung kera dan kepala tokoh ikonik Sugriwa-Subali di Gua Kiskenda, Kulon Progo. Patung itu untuk memperkuat aksen khas dari legenda Sugriwa-Subali yang melekat pada kisah di gua tersebut. "Itu salah satu patung dan karya instalasi ikonik yang sudah selesai pembangunannya," terangnya.
Menurutnya, tidak menutup kemungkinan adanya bangunan atau patung ikonik yang akan dibangun pada waktu mendatang. Namun untuk tahun ini, belum ada rencana pembangunan khususnya patung baru di DIY. "Melihat kondisi keuangan dulu," jelasnya.
Kemudian di wilayah Kota Jogja, bangunan seperti Teras Malioboro juga termasuk ke dalam bangunan ikonik. Pemprov DIY juga mempunyai diorama arsip yang di dalamnya banyak DIYumpai peninggalan lokal khas Jogja. "Kalau untuk hewan atau makanan sebagai ikon DIY memang belum ada," terangnya.
Beberapa bangunan atau patung ikonik yang ada di kabupaten/kota, mayoritas merupakan usulan dari pemkab/pemkot. Menurutnya, terdapat beberapa usulan yang sedang dipersiapkan untuk menjadi ikon Pemprov DIY. "Masih dalam taraf kajian, sehingga belum bisa disampaikan. Tidak harus berupa patung," tandasnya.
Terpisah, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) DIY Ni Made Dwipanti Indrayanti menyampaikan, belum ada rencana pembangunan patung atau bangunan ikonik DIY. Baik rencana maupun program yang sudah terealisasi. "Sepertinya belum ada," ujarnya. (inu/oso/laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita