JOGJA - Perusakan makam non-muslim ternyata tidak hanya terjadi di Kabupaten Bantul.
Namun juga terjadi di Kota Jogja, tepatnya di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Baluwarti yang berada di Kampung Basen, Purbayan, Kotagede.
Pantauan Radar Jogja di lokasi, ada lima makam yang dirusak.
Adapun bentuk kerusakannya berupa papan nama yang dipatahkan.
Serta diketahui semuanya merupakan makam milik non muslim.
Ketua RW 04 Kampung Basen Wahyono mengatakan, kasus perusakan makam nonmuslim itu diduga dilakukan pada Jumat (16/5/2025) sore.
Kemudian pada Sabtu (17/5/2025) pagi dilaporkan oleh pengurus wilayah kepada pihak yang berwenang.
Wahyono mengungkap, kasus perusakan makam itu baru pertama kali terjadi di wilayahnya.
Total ada lima makam yang dirusak, meliputi pematahan nisan salib kayu di empat makam.
Serta satu nisan keramik yang kerusakannya seperti dipukul menggunakan benda keras.
Adapun lima makam yang dirusak, empat di antaranya merupakan milik warga kampung Basen. Sementara satu sisanya milik warga Jagalan, Banguntapan, Bantul.
“Jumat pagi itu masih utuh, kemudian dari keterangan petugas pembersih makam pada Jumat sore itu sudah ada makam yang dirusak,” ujar Wahyono saat ditemui, Senin (19/5/2025).
Wahyono mengaku, belum mengetahui siapa pelaku atau motif perusakan makam tersebut.
Kendati begitu, dia berharap agar kasus tersebut bisa segera diusut tuntas oleh pihak berwenang agar tidak menimbulkan gejolak di masyarakat.
Dia pun ingin, agar kasus perusakan makam di Kampung Basen juga tidak didasari motif intoleransi.
Sebab menurutnya warga juga khawatir peristiwa tersebut akan memecah kerukunan masyarakat yang selama ini sudah terbentuk.
“Semoga ini hanya dilakukan oleh orang mabuk saja, tidak ada maksud untuk merusak kerukunan beragama antar warga,” terang Wahyono.
Sementara itu, Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo menyampaikan, bahwa pemerintah tidak akan membiarkan kasus intoleransi terjadi di Kota Jogja.
Dia pun memastikan akan mendalami dugaan perusakan makam yang terjadi di Kemantren Kotagede.
Mantan Bupati Kulonprogo periode 2011-2019 itu menilai, tindakan merusak makam tentu akan mencoreng citra City of Tolerance yang selama ini sudah terbentuk di Yogyakarta.
Selain itu juga akan menjadi atensi banyak pihak, karena Yogyakarta merupakan tempat tinggal bagi masyarakat yang berasal dari berbagai latar belakang suku dan agama.
“Kota Jogja kondisinya heterogen, kalau sampai ada hal-hal yang mengarah intoleransi dampaknya bisa sangat berbahaya dan dampaknya bisa ke nasional,” terang Hasto.
Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X pun turut berkomentar soal ramainya kabar perusakan makam yang terjadi di Kota Jogja dan kabupaten Bantul.
Namun dia mengaku belum mengetahui secara pasti soal kasus tersebut.
Sultan menilai, bahwa kasus perusakan makam seakan seperti mengulang peristiwa yang sudah terjadi beberapa tahun lalu.
Namun dia irit berkomentar karena akan terlebih dahulu mendalami kasus tersebut.
“Kalau memang sudah ada kasus itu ditangani dulu masalahnya seperti apa."
"Saya tidak berani berkomentar, takut keliru memberitahu kepada publik,” katanya. (inu)
Editor : Iwa Ikhwanudin