Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Menjadi Ruang Seni Inklusi, TBY Terbuka Mewadahi Seniman Difabel, Pameran Suluh Sumurup Art Festival Kali Ketiga Digelar

Agung Dwi Prakoso • Senin, 19 Mei 2025 | 14:15 WIB

 

RAMAH DISABILITAS: Beberapa karya lukis yang dipamerkan dalam Suluh Sumurup Art Festival 2025 di TBY, 15-23 Mei.
RAMAH DISABILITAS: Beberapa karya lukis yang dipamerkan dalam Suluh Sumurup Art Festival 2025 di TBY, 15-23 Mei.
 

JOGJA - Pameran Suluh Sumurup Art Festival (SSAF) 2025 kembali digelar selama sembilan hari, mulai 15-23 Mei. Taman Budaya Yogyakarta (TBY) menjadi lokasi pameran karya inklusi sekaligus ruang ramah disabilitas.

"Seni rupa adalah kesetaraan dan TBY merupakan ruang inklusi yang terbuka bagi para difabel," ujar Kepala TBY Purwiati, Minggu (18/5).

Pameran sudah tiga kali digelar di TBY sejak 2023. Karena merupakan even rutin tahunan, acara itu rencananya terus diadakan. Animo masyarakat maupun seniman yang terlibat pun terus bertambah setiap tahunnya.

"Tahun ini ada 15 provinsi yang ikut. Pameran sebelumnya 12. Jadi tahun ke tahun bertambah," tuturnya.

Ia menegaskan TBY terbuka untuk bisa dimanfaatkan oleh semua orang, baik para disabilitas maupun umum. Bahkan, taman budaya milik pemerintah daerah di wilayah lain tidak semasif TBY dalam menggelar agenda seni disabilitas atau inklusi. "Sepertinya baru TBY yang menyelenggarkaan ruang pameran seni khusus untuk disabilitas," terangnya.

Berbagai evaluasi akan dilakukan, khususnya dalam mempersiapkan sarpras untuk mendukung mobilitas para difabel. Secara display karya, pameran juga disesuaikan dengan kondisi disabilitas yakni tinggi karya tidak melebihi orang dengan kursi roda. "Anggaran pameran dari dana alokasi khusus (DAK) nonfisik kementerian,"  jelasnya.

Kurator pameran Budi Irawanto mengatakan, ia bersama tim telah melakukan kurasi sebanyak 193 karya dari 131 peserta perorangan, komunitas maupun sekolah luar biasa. Mulai dari karya 2 Dimensi, 3 Dimensi hingga audio visual.

Selain lukisan, ada karya yang cukup mencolok yakni instalasi penyu yang seakan berenang, namun ditubuhnya terjerat oleh jaring. Karya itu berjudul Tina Sagara Ka Sagala yang dibuat oleh komunitas Special Needs Artivity dari Pandeglang, Banten.

"Ada karya yang merespons isu yang sedang terjadi, Penyu yang terjebak dalam jaring. Berbicara krisis lingkungan," ujarnya.

Menurutnya, banyak karya yang dipamerkan bertemakan perjalanan hidup para seniman disabilitas. Karya yang jujur dan dekat dengan si pembuat menjadi poin tambahan dalam proses kurasi.

"Ada karya yang dapat mendefinisikan di pembuat sebagai penyandang disabilitas," terangnya.

SSAF 2025 mengambil tema Jejer yang dalam tata bahasa Jawa berarti subjek. Selain itu, pemaknaan yang lain juga berarti berdiri tegak di atas kaki sendiri.

"Pameran ini menjadi ruang seniman disabilitas untuk menegaskan dirinya sebagai subjek yang aktif dan kreatif melalui karya mereka," bebernya.

Ruang itu merupakan bagian dalam membentuk jaringan kolaborasi pergerakan disabilitas pelaku seni. Pameran seni inklusif akan berkembang jika jaringan itu kuat dan merambah seluruh Indonesia. (*/oso/laz)

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#Taman Budaya Yogyakarta (TBY) #penyu #Dana Alokasi Khusus (DAK) #ramah disabilitas #instalasi #inklusi #Suluh Sumurup Art Festival #Disabilitas #bahasa jawa #karya #Pameran #Difabel #ruang #taman budaya