RADAR JOGJA - Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) bukan hanya terkenal dengan warisan seni buaya, sejarah, dan pendidikan. Namun Jogja juga punya banyak pecinta literasi, komunitas penulis dan penerbit. Ditambah dukungan kuat dari pemerintah daerah. Potensi itu sudah sepatutnya mengantarkan Jogja sebagai ibu kota buku dunia.
Gagasan itu mengemuka dalam sebuah talkshow peringatan Hari Jadi ke-75 Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI), Hari Buku Nasional dan HUT Perpustakaan Nasional Republik Indonesia yang digelar di Akademi Bahagia EA Ngebo, Sukoharjo, Ngaglik, Sleman, kemarin (17/5).
Baca Juga: Buku Atlas Jadi Kenangan Masa Kecil, Berimajinasi Jelajahi Bumi, Sering untuk Bermain Tebak-tebakan
"Kami sangat mendukung usulan menjadikan Jogja sebagai ibu kota buku dunia,” ungkap Paniradya Pati Keistimewan DIY Aris Eko Nugroho saat tampil dalam talkshow itu.
Dikatakan, selama ini Pemda DIY menunjukkan komitmen terhadap literasi dan budaya membaca. DIY telah menjadi rumah bagi sejumlah besar penerbit independen. Toko buku tak hanya menjual buku. Namun sebagau ruang diskusi dan pertukaran ide.
Selama ini berbagai festival literasi rutin diadakan setiap tahunnya. Ditambah sejumlah agenda peluncuran buku dan diskusi sastra. Pemda DIY, lanjut Aris, melalui dana keistimewaan (danais) mendukung beragam kegiatan tersebut.
Baca Juga: Mengunjungi Salah Satu Top 10 Destinasi Wisata Jateng, Pantai Menganti. Nikmati Panorama Pantai Berselimut Bukit Kapur
Kembali ke gagasan menjadikan Jogja Ibu Kota Buku Dunia, Aris mengajak sejumlah pemangku kepentingan seperti IKAPI maupun para penggiat literasi bergerak. Mematangkan konsep yang selaras agar usulan itu dapat direalisasikan dalam tempo yang tidak terlalu lama.
Dia memberikan ilustrasi saat Pemda DIY mengajukan Sumbu Filosofi sebagai warisan budaya dunia ke UNESCO. Prosesnya membutuhkan waktu hampir 10 tahun lamanya. Karena itu, dia meminta pengajuan usulan Jogja Ibu Kota Buku Dunia ke UNESCO disiapkan secara matang sesegera mungkin.
Baca Juga: Berada di Wilayah Tinggi, Kalurahan Gerbosari Berdaya melalui Tanaman Krisan, Punya Puluhan Greenhouse Kini Jadi Agrowisata
Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY Kurniawan mengungkapkan, gagasan menjadikan Jogja Ibu Kota Buku Dunia itu sudah berjalan sejak 2024. Itu terjadi karena belum ada satu kota atau daerah di Indonesia yang ditetapkan menjadi ibu kota buku dunia oleh UNESCO.
Di Asia Tenggara baru Kota Bangkok, Thailand, dan Kuala Lumpur, Malaysia. Selama 25 tahun hanya dua kota tersebut di ASEAN. Lebih lanjut dikatakan, menjadikan Jogja Ibu Kota Buku Dunia, harus ada usulan yang diajukan ke UNESCO.
Setiap tahun lembaga pendidikan dan kebudayaan yang bernaung di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) itu mengundang secara terbuka setiap daerah di dunia yang ingin menjadi ibu kota buku dunia.
Baca Juga: Mengenal Hani Sutrisno, Mantan Pengasong yang Sukses Mendirikan Desa Bahasa Borobudur
“Kami akan cermati apa saja kriteria UNESCO. Kami membutuhkan waktu dan persiapan untuk berkoordinasi dengan berbagai pihak,” ucap birokrat asal Klaten yang tinggal di Kalasan, Sleman ini.
Instansinya, sambung Wawan, sapaan akrabnya, sangat mendukung keinginan para penggiat literasi dan IKAPI DIY menjadikan Jogja sebagai Ibu Kota Buku Dunia. Dengan adanya semangat itu menunjukan kegiatan literasi terus tumbuh dan berkembang.
Apalagi ditambah dengan dukungan danais. Wawan optimistis gagasan untuk menetapkan Jogja Ibu Kota Buku Dunia akan dapat direalisasikan. Dari semua upaya itu, pria yang pernah menjadi kepala bidang perencanaan Bappeda DIY itu menekankan, yang terpenting adalah semangat meningkatkan literasi masyarakat.
Ketua IKAPI DIY Wawan Arif berharap ide menjadikan Jogja Ibu Kota Buku Dunia ini bisa menjadi komitmen semua pihak. Diingatkan, bila itu terwujud, ke depan Jogja akan menjadi tempat strategis meningkatkan literasi masyarakat. "Di berbagai event kami sudah dapat suport dari dana keistimewaan. Ini menunjukan Pemda DIY selalu mendukung kami penuh,” tegasnya.
Dalam diskusi itu juga tampil Arie Sujito. Dia sehari-hari menjabat Wakil Rektor UGM. Selain dikenal sebagai akademisi, Arie juga aktif dalam sejumlah kegiatan literasi. (ayu/kus).