SLEMAN – Pewarta Foto Indonesia (PFI) Yogyakarta menggelar pemutaran film dokumenter Before You Eat dan diskusi di Art Gallery, GIK UGM (6/5/2025).
Pemutaran film ini merupakan rangkaian dari pameran foto jurnalistik Sing Penting Madhang yang digelar di lokasi yang sama.
“Saya terinspirasi untuk membuat film ini karena ‘terganggu’ oleh sebuah ironi dari kisah para awak kapal ikan migran yang bekerja di laut,” ujar Sutradara Film Dokumenter Before You Eat (BYE) Kasan Kurdi seusai pemutaran film di Art Gallery, GIK UGM.
Film dokumenter BYE merupakan gambaran kehidupan anak buah kapal (ABK) Indonesia pada saat pencarian ikan di kapal beberapa negara.
Mulai dari perekrutan yang tidak transparan, kontrak kerja yang tidak jelas, kekerasan di atas kapal.
Tak ketinggalan juga kisah pilu rekan-rekan ABK yang meninggal dan dilarung ke laut tanpa persetujuan keluarga.
“Di film ini, mereka (ABK) berbagi cerita perjuangan dalam menuntut hak, membela sesama, dan melawan praktik kerja paksa yang kini disebut sebagai bentuk perbudakan modern,” jelas Kasan Kurdi.
Ia menambahkan, kisah atau isu ini dasar sangat mendesak namun kerap luput dari perhatian.
Nasib para awak kapal ikan yang hidupnya jauh dari kemewahan sajian laut yang kita nikmati di meja makan.
“Di satu sisi mereka bekerja untuk ‘memberi makan’ konsumen seafood dunia, di sisi lain mereka juga harus memberi makan keluarga mereka."
"Kondisi itu ternyata tidak banyak berubah hingga saat ini."
"Saya yakin inti pesan dari film BYE ini akan selalu relevan hingga waktu yang sangat lama,” tambahnya.
Film versi Director’s Cut berdurasi 47 menit ini dibuat dan diluncurkan untuk menjangkau lebih banyak penonton di seluruh dunia.
Hingga tahun 2022 sukses menjangkau lebih dari 5.000 penonton melalui rangkaian nonton bareng luring.
Film yang diproduksi oleh Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) dan didukung oleh Greenpeace Indonesia dalam distribusi melalui beragam kegiatan kampanye publik.
Hal ini dikarenakan, sebagai organisasi lingkungan yang salah satunya bergerak dalam upaya perlindungan laut.
“Semoga dengan film ini dapat meningkatkan kesadaran publik tentang pelanggaran HAM dan kerusakan lingkungan di laut lepas akibat aktivitas para pelaku industri perikanan global,” harap Kasan.
BYE director’s cut ini sudah ditayangkan secara luring di sejumlah daerah di Indonesia, Taiwan dan Amerika Serikat–melalui kegiatan kolaborasi oleh SBMI, Greenpeace Indonesia, Greenpeace Taiwan, Greenpeace USA, dan Greenpeace Malaysia.
Sedangkan pameran foto jurnalistik ‘Sing Penting Madhang’ PFI Jogjakarta sendiri turut didukung berbagai pihak.
Termasuk Bank Syariah Indonesia (BSI), Injourney, Bakpia Satu Hati, Pertamina Patra Niaga, Gojek, Superindo, Directive One, Telkom Indonesia, Gigas.
Serta sejumlah media partner seperti Radar Jogja, TIMES Indonesia, Mojok.co, Kabarsembada.com, Warta Jogja, Tribun Jogja, Harian Jogja, dan Radio Sonora. (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin