JOGJA - Kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di Kota Jogja tergolong masih cukup tinggi. Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana (DP3AP2KB) bahkan mencatat ada ratusan kasus. Serta tidak sedikit yang berakhir dengan perceraian.
Kepala DP3AP2KB Kota Jogja Retnaningtyas mengatakan, berdasarkan data dari UPT Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) selama tahun 2024 terdapat 199 kasus permasalahan keluarga. Mayoritas kasus yang ditangani merupakan tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak.
Kemudian dari catatan Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) tercatat ada 178 keluarga yang mengalami masalah keluarga. Dari jumlah tersebut, 101 kasus di antaranya merupakan anak yang menjadi korban kekerasan dan pelecehan seksual.
Retnaningtyas juga membeberkan, bahwa kasus pernikahan yang berujung perceraian juga tidak sedikit. Pasalnya dari 1.500 pernikahan, ada 500 yang mengajukan cerai. Kondisi tersebut diperparah dengan banyaknya pengajuan pernikahan dini yang mencapai 27 kasus selama setahun terakhir.
Sebagai langkah pemerintah mengatasi permasalahan tersebut, DP3AP2KB Kota Jogja pun meluncurkan program Puspagatra Ngetren pada Senin (5/5/2025). Layanan tersebut tersedia di kemantren Mergangsan, Jetis, dan Kotagede.
“Kantor Puspaga tadinya berada di Komplek Balaikota, tetapi karena antusias sangat tinggi kami ingin lebih mendekatkan pelayanan ke masyarakat,” ujar Retnaningtyas, Selasa (6/5/2025).
Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Kota Jogja Yunianto Dwi Sutono menambahkan, melalui pelayanan Puspagatra Ngetren diharapkan dapat meningkatkan ketahanan keluarga. Sebab nantinya masyarakat bisa mendapatkan informasi terkait pengasuhan anak, kesehatan, serta perlindungan keluarga secara lebih mudah dan dekat.
Baca Juga: KPK Kehilangan Wewenang Tangkap Direksi BUMN: Aturan Baru Picu Polemik
Disamping itu, dalam program tersebut juga tersedia edukasi, konseling, konsultasi, hingga rujukan lanjutan yang dihadirkan melalui program ini. Adapun Puspagatra Ngetren juga merupakan salah satu quick wins di 100 hari kepemimpinan kepala daerah.
Menurut Yunianto, Puspagatra Ngetren nantinya tidak hanya sebagai tempat pembelajaran. Namun ditargetkan juga sebagai ruang kolaboratif antara pemerintah, masyarakat, dan pemangku kepentingan untuk menciptakan keluarga yang tangguh.
“Program ini ditujukan untuk memperkuat ketahanan keluarga sebagai fondasi masyarakat yang harmonis dan berday a,” katanya. (inu)
Editor : Iwa Ikhwanudin