JOGJA - Kesadaran perempuan di Kota Jogja terhadap potensi penyakit serviks terbilang masih cukup rendah.
Menyikapi fenomena itu, pemerintah kota (pemkot) pun menerjunkan ratusan relawan agar deteksi dini penyakit berbahaya tersebut dapat dilakukan dan meminimalisasi tingkat bahayanya.
Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo mengatakan, upaya pencegahan kanker serviks memang terus dilakukan.
Sebab di Indonesia kasus kanker yang menyerang leher rahim tersebut terbilang cukup banyak. Bahkan menduduki urutan kedua setelah kanker payudara.
Hasto menilai, kesadaran masyarakat untuk melakukan deteksi dini kanker serviks menjadi upaya penting pencegahan penyakit tersebut.
Lantaran di negara-negara maju kasus kanker serviks tidak terlalu menjadi ancaman karena sudah ditangani sejak awal sebelum penyakit tersebut kronis.
Hasto mengaku, telah memiliki sebanyak 400 anggota tim pendamping keluarga dan akan diberikan tugas tambahan sebagai relawan kanker serviks.
Sehingga dapat terbangun kesadaran dan gerakan perempuan sehat tanpa kanker serviks.
“Keberadaan anggota tim pendamping keluarga bisa sekaligus menjadi relawan kanker serviks di Kota Jogja,” ujar Hasto, Senin (5/5/2025).
Di samping melalui peran tim pendamping keluarga, Bupati Kulon Progo periode 2011-2019 itu juga telah memiliki program satu kampung satu bidan.
Program tersebut merupakan quick wins Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Jogja pada 100 hari kepemimpinan kepala daerah.
Hasto menegaskan, dalam program tersebut 169 bidan ASN sudah ditugaskan pada kampung-kampung yang ada di Kota Jogja.
Mereka memiliki tanggung jawab untuk terlibat aktif dalam pencegahan dan deteksi dini kanker serviks.
Selain itu, para bidan itu juga diharapkan dapat melakukan pengetesan kanker serviks melalui pap smear dan inspeksi visual dengan asam asetat (IVA).
Sehingga dapat terwujud masyarakat Kota Jogja yang sehat dan bebas kanker serviks.
“Banyak sekali yang harus dilakukan untuk melakukan pencegahan,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Seksi Pengendalian Pencegahan Penyakit Tidak Menular dan Kesehatan Jiwa Dinkes Kota Jogja Iva Kusdyarini menyampaikan, hingga awal tahun mencatat ada 104 perempuan yang terdiagnosa kanker serviks.
Jumlah itu merupakan pasien yang memeriksakan diri di Puskesmas Kota Jogja.
Iva menyebut, faktor penyebab kanker serviks beragam. Bisa dikarenakan genetik karena adanya riwayat keluarga yang pernah menderita kanker.
Kemudian, juga faktor lingkungan seperti paparan polusi dan asap rokok. Serta wanita yang melahirkan banyak anak.
Selain itu, aktivitas seksual pada usia di bawah 18 tahun juga dapat menjadi penyebab kanker serviks.
Sebab, kata Iva, hampir 99 persen kasus kanker serviks disebabkan oleh human papiloma virus (HPV).
Dia pun mengimbau agar perempuan yang sudah menikah atau wanita usia subur (WUS) pada usia 30-50 tahun segera memanfaatkan layanan IVA dan Sadanis di puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat.
“Pemeriksaan penting untuk mencegah kanker serviks dan payudara sejak dini,” kata Iva belum lama ini. (inu/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita