JOGJA - Di tengah maraknya fenomena pemutusan hubungan kerja (PHK) massal, tingkat pengangguran terbuka (TPT) di DIY justru mengalami penurunan.
Menariknya, mayoritas pengangguran tercatat di wilayah perkotaan.
Kondisi ini menunjukkan bahwa gelombang PHK tidak otomatis meningkatkan angka pengangguran, karena sebagian besar pekerja beralih ke sektor informal.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) DIY Herum Fajarwati mencatat, TPT pada Agustus 2024 di DIY berada diangka 3,48 persen, dan menurun menjadi 3,18 persen pada Februari 2025.
“Secara kalkulatif, meski ada beberapa PHK yang terjadi, tapi TPT di DIJ juga mengalami penurunan," katanya, Senin (5/5/2025).
Herum menyebut, TPT per Februari 2025 lebih banyak terjadi di area perkotaan, jumlahnya 3,36 persen. Kemudian menyusul di pedesaan 2,62 persen.
Dia tidak menampik, bahwa adanya gelombang PHK perlu dikhawatirkan.
Namun, juga tidak serta merta fenomena tersebut langsung menyebabkan pengangguran.
Sebab, banyak dari mereka yang ter-PHK beralih pekerjaan dari sebelumnya sektor formal ke informal.
"Ada juga yang akhirnya berusaha sendiri, intinya tetap bekerja tapi tempatnya berganti," ujarnya.
Secara garis besar, sektor pekerjaan informal di DIY per Februari 2025 memang masih mendominasi.
Ia menguraikan, ada 52,88 pekerja di sektor informal, dan 47,12 persen di sektor formal.
"Sektor pertanian, perdagangan, dan industri pengolahan jadi tiga sektor terbanyak dalam penyerapan tenaga kerja," bebernya.
Selain itu, BPS mencatat per Februari 2025, DIY memiliki 3,04 juta penduduk usia kerja.
Angka tersebut naik dibandingkan tahun lalu dengan jumlah kenaikan mencapai 24,97 ribu orang.
"Dari 3,04 juta itu, 2,24 juta adalah angkatan kerja. Lalu untuk yang bekerja sendiri ada 2,17 juta orang," jelasnya.
Sementara, untuk jumlah pengangguran di DIY mencapai 71,19 ribu orang.
Herum menggarisbawahi, bahwa angka tersebut bisa saja fluktuatif, sebab ada beberapa sektor pekerjaan yang melakukan PHK beberapa waktu terakhir, dan belum terangkum dalam data BPS.
"Data yang masuk BPS ada beberapa, tapi yang perusahaan kecil mungkin tidak tercatat, karena kami mendata industri besar dan sedang," paparnya.
Terpisah, seorang yang beralih pekerjaan ke sektor informal adalah Wildan Firmansyah. Sebelumnya, Wildan bekerja di sektor perhotelan dan terkena dampak PHK pada April lalu.
"Bisa dibilang sekarang freelance, fokusnya di jasa bersih-bersih rumah tangga," katanya.
Secara proyeksi, Wildan membuka diri dan berupaya untuk kembali bekerja di sektor formal yang lebih terstruktur dan jelas.
Namun, ia juga menyadari bahwa situasi industri pekerjaan saat ini banyak yang sedang dalam kondisi berat.
"Seperti industri hotel sekarang ini berat, saya tahu juga cukup banyak teman-teman yang dirumahkan atau di PHK," tandasnya. (iza/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita