JOGJA - Program Pemeriksaan Kesehatan Gratis (PKG) di Kota Jogja sudah berjalan di Kota Jogja sejak awal Februari lalu. Seiring waktu berjalan, program tersebut kini diprioritaskan bagi kalangan lansia.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Jogja Emma Rahmi Aryani mengatakan, diprioritaskannya kalangan lansia dalam PKG karena kategori tersebut masuk usia rawan resiko penyakit. Khususnya jenis penyakit tidak menular seperti hipertensi dan diabetes melitus.
Emma menilai, dalam upaya pencegahan dua jenis penyakit tersebut memang perlu pemeriksaan kesehatan secara rutin dan intensif. Lalu di satu sisi populasi lansia di Kota Jogja juga tergolong cukup tinggi. Yakni 16 persen dari total penduduk.
Diakuinya, penduduk kategori lansia memang tidak jarang banyak yang mengalami keterbatasan untuk datang ke fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes). Sehingga program PKG pun dilakukan secara jemput bola dengan langsung mendatangi lansia.
“Program PKG kami jadwalkan setiap bulan dengan langsung mendatangi kelurahan,” ujar Emma, Senin (5/5/2025).
Emma membeberkan, program PKG sejatinya juga sudah tersedia pada 14 kemantren di Kota Jogja. Program tersebut bisa dimanfaatkan oleh hampir seluruh kategori masyarakat. Baik itu anak, remaja, orang tua, maupun lansia.
Kendati begitu, menurutnya peminat PKG di puskesmas masih tergolong rendah. Sejak dibuka pada bulan Februari lalu hingga April jumlah masyarakat yang memanfaatkan layanan PKG baru 1.800 orang dengan rata-rata pasien 3-5 orang per hari. Jumlah itu baru sepersekian persen total penduduk Kota Jogja yang jumlahnya 375.699 jiwa.
“Memang kesadaran masyarakat untuk melakukan cek kesehatan masih rendah,” terang Emma.
Sementara itu, Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo menyampaikan, pihaknya juga menggandeng organisasi kesehatan agar program pemeriksaan kesehatan tersebut berjalan optimal. Misalnya dengan bekerjasama dengan Ikatan Bidan Indonesia (IBI) untuk mendukung program satu kampung satu bidan.
Hasto menyebut, pihaknya juga telah menempatkan sebanyak 169 bidan ASN pada seluruh kampung di Kota Jogja. Namun kehadiran bidan tersebut tetap harus mendapat dukungan berbagai pihak agar kesehatan masyarakat terutama lansia, ibu hamil (bumil), dan anak-anak dapat terjamin.
"Anggota IBI Kota Jogja jumlahnya ada ratusan, dengan jumlah tersebut tentunya akan dapat menjangkau masyarakat dengan cepat," terangnya. (inu)
Editor : Iwa Ikhwanudin