JOGJA - Kasus kematian ibu bayi masih ditemukan di Kota Jogja. Hal tersebut pun menjadi perhatian bagi pemerintah kota (pemkot). Sehingga upaya antisipasi pun dilakukan.
Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo mengatakan, kasus kematian ibu untuk saat ini banyak terjadi di rumah sakit. Kondisi itu berbeda dengan zaman dahulu yang cenderung terjadi di hulu. Sehingga memang diperlukan pelayanan dan respons dokter yang cepat.
Angka kematian ibu pun tercatat selama empat tahun terakhir. Misalnya pada 2021 ada 16 kasus per 2.757 kelahiran hidup. Kemudian turun menjadi 4 per 2.499 kelahiran hidup pada 2022. Lalu 2023, nol kasus dari 2.427 kelahiran hidup. Sementara 2024, dari 2.148 kelahiran hidup terdapat dua kasus kematian ibu.
Hasto menyebut, penurunan kasus kematian ibu memang sudah seharusnya diwujudkan karena berkaitan dengan human capital index (HCI). Sehingga selain mendorong rumah sakit, pemkot juga memiliki program satu kampung satu bidan. Serta melakukan penguatan upaya preventif dalam KB mencegah kehamilan tidak diinginkan.
“Kami sangat serius bagaimana mencegah kematian ibu dan bisa mencapai zero maternal rate,” ujar Hasto Jumat (2/5).
Sebagai informasi, rendahnya kasus kematian ibu pun diakui secara nasional. Sehingga Kota Jogja menjadi rujukan The World Bank sebagai percontohan agar langkah-langkah yang sudah dilakukan bisa menjadi percontohan secara nasional.
Public Sector Specialist The World Bank Romawaty Sinaga menyampaikan, Kota Jogja memang bisa menjadi rujukan daerah lain. Khususnya dalam hal perencanaan hingga pengelolaan keuangan daerah untuk menurunkan angka kematian ibu.
Ronawaty menegaskan, berbagai model yang sudah dilakukan Kota Jogja dapat dipakai oleh pemerintah untuk membuat perencanaan. Termasuk dalam hal membaca dan menggunakan data untuk menurunkan angka kematian ibu.
“Ketika angka kematian ibu sudah tertangani dengan baik, kami berharap pemkot akan melakukan penguatan pada sektor lain seperti halnya soal ketimpangan gender,” katanya. (inu/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita