Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Sebarkan Spirit Bertahan Hidup Melalui Karya, PFI Jogja Gelar Pameran Fotografi Jurnalistik Sing Penting Madhang

Agung Dwi Prakoso • Sabtu, 3 Mei 2025 | 00:58 WIB
Pameran foto Sing Penting Madhang digelar PFI Jogja di GIK UGM 1-8 Mei 2025.
Pameran foto Sing Penting Madhang digelar PFI Jogja di GIK UGM 1-8 Mei 2025.

JOGJA - Pewarta Foto Indonesia (PFI) Yogyakarta menggelar Pameran Fotografi Jurnalistik dengan tajuk Sing Penting Madhang di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 1-8 Mei 2025. Total 126 karya foto hasil bidikan 25 anggota PFI Yogyakarta dipajang untuk dinikmati para pengunjung. 

Dalam sambutan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Hamengku Buwono X (HB X) yang dibacakan oleh Kepala Dinas Kominfo DIY Hari Edi Tri Wahyu Nugroho dikatakan filosofi 'madhang' dalam tema yang diambil mengandung makna yang mendalam. Selain itu, diksi yang diambil juga dekat atau familiar dengan masyarakat Jogja. 

"Bagi masyarakat Jawa madhang bukan sekadar perkara perut, melainkan filosofi tentang hidup yang utuh," ujar Hari saat pembukaan acara (1/5/2025). 

Bagi manusia, madhang tak hanya membuat perut kenyang. Melainkan juga membuat terang atau jernih dalam pandangan. HB X mempadankan arti tersebut dengan frasa 'Madhang Gawe Padang' yang juga familiar diucapkan masyarakat Jogja. 

"Makan bukan sekadar konsumsi tapi kontribusi pada dimensi hidup secara holistik," tuturnya.

Fotografi dinilai tak hanya sekadar penyajian secara visual. Namun karya tersebut memiliki kekuatan penyampaian makna atau bahasa tang universal dan mampu menembus batas budaya ataupun ideologi. 

"Dengan konteks hari ini fotografi bisa menjadi sastra visual yang menyuarakan kebenaran dan menurunkan kebisingan kebohongan yang kian ingar bingar di era post truth," terangnya. 

Ketua PFI Jogja Andreas Fitri Atmoko mengatakan 'Sing Penting Madhang' dalam Bahasa Indonesia berarti yang penting makan. Frasa tersebut sederhana, namun bernilai kompleks dengan makna yang luas. 

"Guyon Jawa itu justru menyangkut sesuatu yang sangat mendasar dalam kehidupan. Kebutuhan manusia untuk bertahan hidup dan terus bergerak di tengah situasi yang kadang tak ideal," ujarnya.

Lewat frasa ini, PFI Yogyakarta mengajak untuk merenungi perjuangan rakyat kecil, dinamika sosial, tentang bagaimana manusia bertahan dengan caranya masing-masing. Spirit tersebut merupakan tugas utama pewarta foto Indonesia. Ia merekam peristiwa pentinf dan menyampaikan melalui visual foto yang jujur dan bertanggung jawab sesuai kode etik jurnalistik. 

"Foto-foto ini bukan hanya bicara makan dalam arti harafiah tetapi juga menyiratkan perjuangan ekonomi, politik, budaya, hingga realitas pada tantangan zaman," ucapnya.

Andre mengatakan, pewarta foto adalah mata publik yang menyampaikan fakta melalui karya foto jurnalistik berintegritas. Maka dari itu, pameran ini hadir setiap tahun yang dapat dinikmati maupun direnungi publik.

Ketua Pameran, Dwi Oblo Prasetyo, mengatakan lokasi pameran ini -yang waktu itu masih Gelanggang Mahasiswa- adalah tempatnya bertumbuh semasa berkuliah. Suatu kebanggaan baginya pameran PFI bisa berlangsung di GIK.

"Dulu itu rumah saya di sini, Gelanggang Mahasiswa," kata Dwi Oblo.

"Ini setelah beberapa tahun ini kok ada ide pameran di sini, saya sangat berbangga," imbuhnya. (oso) 

Editor : Iwa Ikhwanudin
#PFI Jogja #pameran foto #Sing Penting Madhang #Pewarta foto indonesia #GIK UGM