Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Candi Prambanan 'Dipaksa' Bersholawat? Acara Gus Miftah di Situs Hindu Picu Kontroversi dan Kecaman

Meitika Candra Lantiva • Jumat, 2 Mei 2025 | 00:20 WIB
Rencana penyelenggaraan acara "Prambanan Bersholawat" yang dijadwalkan pada 10 Mei 2025 di kompleks Candi Prambanan, Yogyakarta, telah memicu kontroversi di media sosial.
Rencana penyelenggaraan acara "Prambanan Bersholawat" yang dijadwalkan pada 10 Mei 2025 di kompleks Candi Prambanan, Yogyakarta, telah memicu kontroversi di media sosial.

RADAR JOGJA – Rencana penyelenggaraan acara "Prambanan Bersholawat" yang dijadwalkan pada 10 Mei 2025 di kompleks Candi Prambanan, Yogyakarta, telah memicu kontroversi di media sosial.

Acara ini direncanakan akan dipimpin oleh pendakwah kondang, Miftah Maulana Habiburrahman, atau lebih dikenal sebagai Gus Miftah.

Kontroversi bermula dari unggahan akun X @GlHindu yang mempertanyakan kelayakan mengadakan acara doa Islam di situs warisan budaya Hindu.

"Prambanan itu Candi Hindu. Harusnya disana berjapa mantram, kirtanam, seperti beberapa bulan lalu saat ribuan umat Hindu melantunkan 1000 nama Siwa," tulis akun X @GlHindu.

"Bila umat lain ingin berdoa di Prambanan, silakan. Doa dalam hati dengan bahasa apa tidak ada yang tahu. Tapi beramai-ramai dengan branding agama lain, rasanya tidak elok," tambahnya.

Unggahan tersebut memicu berbagai reaksi warganet.

Sebagian mendukung pandangan @GlHindu, menekankan pentingnya menghormati situs keagamaan sesuai dengan fungsinya.

Namun, ada pula yang berpendapat bahwa penyelenggara sudah melakukan mediasi.

“dari pihak penyelenggara sudah menerangkan min, dan sudah mediasi ke phdi setempat, dan mencatumkan alamat lengkap nya biar tidak ada kesalah pahaman,” tulis akun X @Dimasandtr.

Menanggapi kontroversi ini, General Manager PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko, Ratno Tumur, menjelaskan bahwa kegiatan peribadatan umat Hindu berada di zona 1 atau area utama Candi Prambanan.

Sementara itu, acara "Prambanan Bersholawat" direncanakan berlangsung di zona 2, yang merupakan area penyangga dan sering digunakan untuk berbagai acara publik, termasuk konser musik seperti Prambanan Jazz.

"Kegiatan tersebut tidak dilaksanakan di zona inti candi yang digunakan untuk peribadatan umat Hindu," jelas Ratno.

Gus Miftah, yang dikenal dengan pendekatan dakwahnya yang inklusif, sebelumnya pernah mengisi acara di berbagai tempat, termasuk gereja dan kelab malam.

Namun, beberapa tindakan dan pernyataannya juga pernah menuai kontroversi.

Misalnya, pada akhir 2024, ia menjadi sorotan setelah mengolok-olok seorang pedagang es teh dalam sebuah acara di Magelang, yang kemudian memicu kritik dari berbagai pihak.

Hingga saat ini, belum ada konfirmasi resmi mengenai penyelenggaraan acara "Prambanan Bersholawat" pada 10 Mei 2025.

Namun, poster acara telah beredar di media sosial, menampilkan gambar Gus Miftah dan informasi mengenai acara tersebut.

Kontroversi ini menyoroti pentingnya sensitivitas dan dialog antarumat beragama dalam menggunakan situs-situs keagamaan yang memiliki nilai historis dan spiritual.

Sebagai negara dengan keragaman agama yang kaya, Indonesia diharapkan dapat terus memelihara toleransi dan saling menghormati antarumat beragama.

Dengan mendekatnya tanggal 10 Mei 2025, publik menantikan kejelasan lebih lanjut mengenai acara ini dan bagaimana pihak penyelenggara serta pengelola situs akan menangani situasi ini untuk menjaga keharmonisan antarumat beragama. (Affan Yunas Hakim)

Editor : Meitika Candra Lantiva
#candi hindu #kontroversi #kecaman #candi prambanan #situs warisan budaya Hindu #Gus Miftah #Prambanan Bersholawat #reaksi warganet #mediasi