Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

AI dan Dunia Desain Grafis: Keuntungan atau Tantangan? Evolusi Tak Bisa Dicegah, Diterima Saja selama Tidak Disalahgunakan

Gregorius Bramantyo • Senin, 28 April 2025 | 14:30 WIB

 

Desainer grafis menghasilkan karya karikatur menggunakan bantuan AI atau Artificial Intelligence Minggu (27/4).
Desainer grafis menghasilkan karya karikatur menggunakan bantuan AI atau Artificial Intelligence Minggu (27/4).

JOGJA - Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini menjadi salah satu teknologi yang turut mewarnai proses penciptaan seni rupa modern. Apakah AI bakal menggantikan para desainer grafis ke depan? Apa kata pengamat seni, juga ahli hukum terkait dengan hak atas kekayaan intelektual (HaKI)? Berikut laporan Radar Jogja.

AI merupakan bidang ilmu komputer yang fokus pada pengembangan mesin atau sistem yang mampu meniru hingga melampaui kemampuan manusia dalam berbagai aspek. Aspek-aspek itu termasuk belajar, berpikir, berkomunikasi, hingga berkreasi.

Dalam beberapa tahun terakhir, AI telah berkembang pesat dan menunjukkan potensi luar biasa dalam berbagai bidang, termasuk seni rupa. AI mampu berkontribusi dalam proses kreatif, pembelajaran, hingga distribusi karya seni.

Desainer grafis senior Alex Pracaya menilai, kehadiran AI merupakan bagian dari evolusi teknologi yang tidak bisa dihindari. Dia pun juga membandingkan dengan penemuan teknologi pada masa renaissance dan abad pertengahan yang sempat mengubah cara orang berkarya.

“Evolusi itu tidak bisa dicegah, diterima saja selama tidak disalahgunakan. Berkesenian juga bagian dari masyarakat. Dan kalau masyarakat telah berubah, maka seniman pun harus menyesuaikan,” kata Alex, Sabtu (26/4).

Dia menjelaskan, AI memberikan dampak positif bagi proses penciptaan seni rupa. Antara lain dengan membantu seniman dalam proses kreatif melalui inspirasi dan bantuan teknis, mendukung proses pembelajaran lewat evaluasi dan umpan balik. Serta memudahkan distribusi karya melalui promosi, penjualan, dan kolaborasi.

Namun demikian, Alex juga menyoroti dampak negatif yang mungkin ditimbulkan AI, seperti ancaman terhadap kreativitas, orisinalitas, dan identitas seniman. Menurutnya, AI juga berpotensi menurunkan kualitas serta makna seni rupa jika tidak digunakan dengan bijak.

Di sisi lain, AI bisa menimbulkan persoalan etika dan tanggung jawab, seperti isu hak cipta, diskriminasi, privasi, hingga akuntabilitas karya.

Terkait kekhawatiran apakah seniman konvensional akan makin tersisih, Alex menyatakan setiap seniman memiliki pasarnya masing-masing.

 

“Target seniman itu rata-rata berorientasi pada pasar. Saya rasa semuanya tetap bisa eksis selama mereka tahu caranya mengelola kreativitas, termasuk bagaimana mengelola pasar dan merespons perubahan teknologi,” ujarnya.

Alex juga menekankan pentingnya sikap bijak dan proaktif dari para seniman dalam merespons perkembangan AI. Menurutnya, seniman harus terbuka terhadap AI sebagai alat bantu. Namun tetap menjaga kemandirian, kejujuran, serta etika dalam berkarya. Mereka juga harus siap menanggung dampak sosial dan moral dari karya yang diciptakan dengan bantuan AI.

"AI tidak bisa begitu saja ditolak karena keberadaannya merupakan bagian dari kebijakan politik. Kalau memang tidak ingin berkompetisi dengan teknologi, mending sekalian diputus saja oleh pemerintah, sehingga masyarakatnya tidak menerima teknologi yang terbarukan,” tandasnya. (tyo/laz)

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#Desainer Grafis #Seniman #seni rupa #identitas #teknologi #hak cipta #Renaissance #ai #kecerdasan buatan #berkesenian #Orisinalitas #Artificial Intelligence (AI) #berkarya