JOGJA - Yogyakarta menjadi salah satu wilayah rawan gempa jika berkaca pada tahun 2006 lalu. Sehingga, upaya memahamkan tentang mitigasi pun penting dilakukan. Tidak terkecuali bagi satuan pendidikan seperti sekolah.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja Nur Hidayat mengatakan, upaya meningkatkan pemahaman tentang mitigasi bencana dilakukan pihaknya dengan pembentukan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB). Adapun hingga saat ini total sudah 28 SPAB di Kota Jogja
Selain dibentuk SPAB, menurut Nur, kegiatan simulasi juga penting diselenggarakan secara rutin untuk melatih dan meningkatkan kemampuan penyelamatan diri dan evakuasi mandiri dari bencana. Itu juga yang dilakukan dalam peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana pada Sabtu (26/4/2025) kemarin.
Dalam peringatan HKB itu, BPBD Kota Jogja melaksanakan simulasi di empat satuan pendidikan. Meliputi SD Negeri Serangan, SD Negeri Kotagede 3, SD Muhammadiyah Sukonandi I dan SD Muhammadiyah Sukonandi II.
“HKB tahun ini memang kami fokuskan pada simulasi bencana di sekolah,” ujar Nur, Minggu (27/4/2025).
Namun meski fokus pada satuan pendidikan, BPBD Kota Jogja tetap berupaya meningkatkan pemahaman tentang mitigasi bencana untuk masyarakat luas. Sehingga juga dilakukan apel siaga personel bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) serta relawan Kampung Tangguh Bencana (KTB).
Selain itu juga dilaksanakan uji coba sistem alat peringatan dini EWS banjir dengan membunyikan sirine, kentongan, bel, hingga lonceng sekolah. Hal tersebut juga selaras dengan tema HKB 2025 yang mengusung tajuk Siap Untuk Selamat.
Melalui tema tersebut, kata Nur, pihaknya berharap dapat menghadirkan kesiapsiagaan di masyarakat. Sehingga masyarakat pun mampu melaksanakan mitigasi dan meningkatkan pengetahuan kebencanaan melalui kegiatan latihan.
“Dengan demikian akan terbangun ketahanan lingkungan dari aspek pencegahan dan penanggulangan bencana yang arahnya pada meminimalisir dampak bencana," jelas Nur.
Selaras dengan hal tersebut, Kepala SDN Kotagede 3 Rumgayatri menilai, simulasi menjadi penting karena Yogyakarta merupakan wilayah rawan bencana. Khususnya bencana gempa bumi.
Sehingga dia memandang bahwa anak-anak sudah seharusnya memahami tentang upaya keselamatan dari bencana. Hal tersebut, menurutnya hanya bisa didapat dengan praktik secara langsung melalui kegiatan simulasi kebencanaan.
“Minimal satu semester sekali melakukan simulasi, sehingga paham kalau ada bencana gempa harus berbuat apa,” kata Rumgayatri. (inu)
Editor : Iwa Ikhwanudin