JOGJA - Guru BesarBidang Vulkanologi Universitas AKPRIND Indonesia, Prof Sri Mulyaningsih, resmi dikukuhkan tahun ini.
Selama puluhan tahun, dosen senior ini menekuni berbagai penelitian terkait gunung api aktif, terutama Gunung Merapi, serta kondisi geologi di DIY.
“Geologi cekungan Yogyakarta terbentuk dengan waktu sebagai unsur utama, yakni jutaan tahun membentuk bentang alam, tanah sumber daya yang kini kita warisi," ujarnya, Jumat (25/4/2025).
Ia menjelaskan, geologi memiliki dua wajah yakni positif dan negatif. Wajah positif meliputi sumber daya yang menopang kehidupan.
Sementara wajah negatif mencakup potensi bencana geologi seperti gempa bumi, tanah longsor, dan letusan gunung berapi.
“Meski hanya mencakup 0,17 persen luas wilayah Indonesia, DIJ menyimpan rekam jejak vulkanik yang sangat panjang dan kompleks," tuturnya.
Menurutnya, sebagian besar sumber daya geologi di wilayah DIY memiliki nilai ekonomis, konservasi, edukasi, sekaligus estetika.
Kawasan ini dibentuk oleh tiga sistem gunung api utama yaitu Pegunungan Kulon Progo yang berumur Oligosen-Miosen, Pegunungan Selatan berumur Miosen Awal, serta Gunung Merapi yang muncul sekitar 0,5 juta atau 500 ribu tahun lalu dan masih aktif hingga kini.
Hampir dua pertiga wilayah DIY memiliki jejak sulfidasi dan alterasi mineral. Ini menjadi bagian dari warisan geologi yang dilestarikan, salah satunya sebagai destinasi geowisata edukatif.
"Inilah yang menjadi semangat dalam pembentukan Geopark Gunung Sewu dan Geopark Jogja," terangnya.
Tempat tersebut juga dapat digunakan sebagai pemberdayaan masyarakat melalui pariwisata edukatif dan konservatif berkelanjutan.
Geowisata adalah bentuk museum alam terbuka yang hidup. Masyarakat dari berbagai kalangan baik warga lokal, regional, nasional, hingga internasional dapat belajar memahami evolusi bumi dan peran gunung api dalam membentuk kehidupan.
Baca Juga: Besaran Kompensasi Rumah Tergusur Sudah Diinformasikan, Warga Kawasan Stasiun Lempuyangan Jogja Datangi Gedung DPRD Kota Jogja
Menurutnya keberadaan Gunung Merapi meskipun menyimpan potensi bahaya juga mampu menopang kehidupan masyarakat.
Daya dukung ekologis keberadaan gunung tersebut dapat dirasakan oleh masyarakat.
"Gunung api tidak hanya menjadi sumber ancaman, tetapi juga merupakan entitas geologi yang menopang peradaban, menyimpan sumber daya, serta memelihara ekosistem dari zaman purba hingga kini," terangnya.
Baca Juga: Siapakah Luis Tagle, Kardinal yang Disebut sebagai Pengganti Paus Fransiskus?
Ketua Panitia Pengukuhan guru besar Universitas AKPRIND Radhitya Adzan Hidayah menambahkan, Sri Mulyaningsih merupakan dosen senior Program Studi Teknik Geologi Universitas AKPRIND dengan kiprah panjang dalam riset bidang vulkanologi, mitigasi bencana geologi, dan geologi terapan.
Pengukuhan tersebut menjadi tonggak akademik strategis dalam kontribusinya terhadap ilmu kebumian dan kebencanaan di Indonesia.
"Ini bukan hanya capaian pribadi, tetapi cerminan kontribusi kolektif Prodi Teknik Geologi dalam memperkuat fondasi akademik dan kolaborasi riset kebumian lintas sektor," ujarnya. (oso/wia)