JOGJA - Tingginya harga rumah dan mahalnya lahan di DIY membuat kepemilikan hunian semakin tidak terjangkau, terutama bagi generasi muda.
Dewan Pengurus Daerah Real Estate Indonesia (DPD REI) DIY pun mengusulkan inovasi kebijakan berupa skema sewa hunian bersubsidi sebagai solusi jangka menengah.
Ketua DPD REI DIY Ilham Muhammad Nur mengatakan, banyak anak muda, khususnya dari Generasi (Gen) Z, kini memilih tinggal di tempat kos atau menyewa rumah karena sulit menjangkau harga rumah tapak.
Menurutnya, hal ini bukan hanya disebabkan oleh gaya hidup Gen Z yang cenderung tidak memprioritaskan kepemilikan aset, tetapi juga karena keterbatasan akses terhadap hunian yang terjangkau.
“Penyediaan perumahan merupakan tanggung jawab bersama, terutama pemerintah,” katanya, Rabu (23/4/2025).
Dia menyebut, pemerintah sudah menyediakan program fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).
Namun, hal ini dinilai belum cukup menjawab tantangan di lapangan.
Dia mengusulkan agar skema FLPP tidak hanya fokus pada kepemilikan rumah, tetapi juga mencakup sistem sewa.
Menurutnya, model sewa bersubsidi akan lebih terjangkau dan bisa menjadi solusi bagi Gen Z yang belum siap membeli rumah.
“Kalau mereka bisa sewa dengan harga murah dalam jangka panjang, itu akan memberikan rasa aman. Saat ini banyak dari mereka berpindah-pindah, padahal rumah itu pondasi kesejahteraan keluarga,” ujarnya.
Ilham juga menyoroti tantangan pengadaan rumah subsidi di DIY, yang utamanya disebabkan oleh tingginya harga tanah.
Akibatnya, banyak pengembang REI DIY lebih memilih membangun rumah nonsubsidi dengan harga mulai Rp 250 juta hingga Rp 300 juta.
Namun lokasinya umumnya berada di pinggiran kota seperti wilayah Bantul dan Sleman.
Meskipun begitu, masih ada beberapa anggota REI yang berinvestasi di segmen rumah subsidi.
Dia tetap mendorong para pengembang untuk menyediakan rumah bersubsidi walau jumlahnya terbatas.
“Kami tetap berusaha agar rumah subsidi tersedia. Beberapa anggota berencana berinvestasi tahun ini, semoga berjalan lancar,” bebernya.
Di sisi lain, sektor properti di DIY turut terdampak oleh melemahnya daya beli masyarakat.
Ilham mencatat bahwa sejak awal 2025, terjadi penurunan sekitar 20 persen dalam permintaan kredit pemilikan rumah (KPR) yang masuk melalui anggota REI DIY.
Penurunan juga terlihat dari berkurangnya jumlah kunjungan calon pembeli ke proyek perumahan, bahkan saat momentum libur Lebaran.
“Kami masih optimistis bahwa sektor properti di DIY akan tetap tumbuh hingga akhir 2025,” tandasnya. (tyo/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita