JOGJA - Fenomena cuaca panas mulai terasa di Yogyakarta dalam beberapa waktu terakhir ini.
Kondisi itu dibuktikan dengan hasil pemantauan suhu oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta.
Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta Reni Kraningtyas mengatakan, kondisi peralihan musim dari penghujan ke kemarau memang berpengaruh terhadap kondisi iklim.
Salah satunya membuat suhu lebih tinggi dibandingkan biasanya.
Dia mengungkap, dari hasil pengamatannya selama sepekan terakhir suhu udara di sebagian besar wilayah DIY paling tinggi dapat menyentuh kisaran 31 hingga 32 derajat celcius.
Walaupun memang ada potensi lebih tinggi lagi jika kondisi cuaca terik.
“Namun umumnya berada pada kisaran 32 sampai dengan 33 derajat celcius,” ujar Reni saat dikonfirmasi, Selasa (22/4/2025).
Reni menyatakan, bahwa kondisi cuaca panas kemungkinan juga bisa terjadi sepanjang bulan ini.
Sebab pada akhir April nanti wilayah Yogyakarta sudah memasuki awal musim kemarau.
Namun meski mayoritas wilayah DIY mengalami kondisi cuaca terik.
Masyarakat tetap diminta untuk waspada potensi bencana hidrometeorologi.
Lantaran sebagian wilayah masih terjadi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat.
Baca Juga: Polisi Buton Utara Dipecat karena Dugaan Perkosaan Ibu Mertua, Ajukan Banding ke Polda
Reni pun menghimbau, agar masyarakat dan pemerintah daerah mewaspadai berbagai potensi bencana yang kemungkinan terjadi selama awal musim kemarau.
Misalnya kekeringan, berkurangnya ketersediaan air bersih, hingga kebakaran hutan dan lahan.
“Umumnya cuaca cenderung panas. Namun ada potensi hujan juga untuk wilayah DIY yang masih pancaroba,” terangnya.
Sementara itu, Kepala Seksi Promosi Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Jogja Arum Wulansari menyampaikan, bahwa ada berbagai upaya untuk menjaga kondisi kesehatan selama cuaca terik.
Misalnya dengan menjaga cairan dengan tetap minum air lebih banyak tanpa menunggu haus.
Kemudian dapat juga dioptimalkan dengan mengkonsumsi buah-buahan tinggi air semangka dan melon.
Lalu juga disarankan agar menggunakan pelembab kulit agar tidak terjadi iritasi dan membatasi aktivitas luar ruangan di siang hari.
“Selain itu memakai baju katun berwarna cerah agar tidak gerah dan menggunakan payung atau topi untuk melindungi kulit dari paparan sinar matahari,” imbuhnya. (inu)
Editor : Iwa Ikhwanudin