JOGJA - Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja tengah mencanangkan pembentukan koperasi bagi penggerobak atau transporter yang bertugas menjemput sampah dari rumah ke rumah.
Rencana tersebut bertujuan agar para petugas pengangkut sampah optimal dalam mendapatkan hak-haknya.
Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo mengatakan, pembentukan koperasi bagi penggerobak dinilai penting agar para petugas memiliki wadah komunikasi.
Sekaligus menjadi media bagi pemerintah untuk menyaring aspirasi atau kebutuhan transporter dalam menjalankan tugasnya.
Hasto menyebut, kehadiran koperasi itu nantinya juga diharapkan dapat membuat para penggerobak bisa terpenuhi hak-haknya.
Termasuk menjadi tempat untuk meminjam uang, apabila mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan ekonominya.
Adapun hingga pekan ini, jumlah penggerobak yang bekerjasama dengan Pemkot Jogja mencapai sekitar 1.136 orang.
Para penggerobak itu mayoritas juga sudah aktif bekerja dan tersebar pada seluruh kelurahan di Kota Jogja.
“Penggerobak-penggerobak ini rencana ke depan akan saya bentuk koperasi. Supaya kami bisa memperhatikan tentang hak ekualnya mereka,” ujar Hasto, Minggu (20/4/2025).
Hasto menyebut, bahwa pihaknya juga berkomitmen untuk memenuhi kebutuhan dasar transporter ketika melaksanakan tugasnya. Misalnya peralatan seperti masker, sarung tangan, seragam hingga sepatu.
Bahkan untuk pengadaan gerobak sampah baru juga sudah direncanakan melalui pengalihan anggaran pembelian mobil dinas wali kota dan wakil wali kota yang batal dilakukan. Di mana anggarannya mencapai Rp 3 miliar.
Menurut Bupati Kulon Progo periode 2011-2019 itu, anggaran untuk mobil dinas akan dialihkan untuk pembelian 616 gerobak sampah.
Ratusan gerobak sampah itu akan diberikan kepada seluruh RW di Kota Jogja.
“Pada Juli ini semua RW akan saya belikan satu unit gerobak untuk backup. Itu dari pengalihan anggaran mobil dinas,” bebernya.
Sementara itu, Ketua Paguyuban Depo Utoroloyo yang juga merupakan koordinator penggerobak di wilayah Tompeyan Tupardi menyampaikan, bahwa alat pelindung diri (APD) kesehatan seperti sarung tangan dan sepatu boot sangat dibutuhkan.
Sebab petugas depo dan transporter selalu berjibaku dengan sampah yang berpotensi menyebarkan penyakit.
Tupardi pun ingin, juga ada kompensasi dari pemkot bagi petugas Depo Utoroloyo.
Sebab depo yang selama dikelola oleh masyarakat sekitar itu juga melakukan pengolahan sampah mandiri dengan cara dibakar.
“Kami hanya dapat subsidi solar. Tapi kalau solar kan tidak bisa nyala sendiri tanpa operator. Sehingga kami berharap ada subsidi operator,” katanya belum ini. (inu/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita