JOGJA - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Jogja berupaya menekan angka prevalensi anak kekurangan gizi.
Salah satunya dengan melakukan pengentasan stunting dengan target sasaran 10.989 balita.
Kepala Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi Dinkes Kota Jogja Iswari Paramita mengatakan, dari puluhan ribu target tersebut, di antara 30 persen merupakan kategori bayi di bawah dua tahun (baduta).
Namun, dari jumlah itu belum bisa dipastikan terkait anak dengan permasalahan gizi.
“Tapi yang utama tentu optimalisasi pencegahan stunting terus kami lakukan,” ujar Iswari, Rabu (16/4/2025).
Iswari menjelaskan, prevalensi stunting pada 2024 berhasil diturunkan menjadi 11,27 persen dibandingkan dengan 2023 yang mencapai 11,67 persen. Peran aktif masyarakat menjadi kunci utama penurunan ini.
Baca Juga: Suporter PSS Sleman Berharap Rayakan Kepulangan ke MagIS dengan Kemenangan Atas Dewa United
“Itu terbukti dari persentase partisipasi masyarakat pada 2024 lalu yang menyentuh 92 persen dibanding tahun sebelumnya yang hanya 89 persen,” ujarnya.
Menurutnya, upaya pencegahan stunting yang dilakukan oleh Dinkes Kota Jogja tidak hanya menyasar kalangan balita maupun baduta.
Namun juga remaja putri yang nantinya menjadi calon ibu. Di samping itu, pemantauan rutin ibu hamil sejak masa pertama kehamilan pun dimasifkan.
Sehingga perkembangan dan kecukupan gizi bayi sejak masih dalam kandungan dapat terpantau. “Langkah-langkah tersebut merupakan pencegahan dini,” terangnya.
Sementara itu, Mantri Pamong Praja Kemantren Keraton Sumargandi menyampaikan, pihaknya selama ini fokus terhadap pendampingan anak berisiko stunting dan penderita tuberkulosis (TBC).
Hal itu sebagai upaya meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat dan salah satu program quick wins.
Adapun program milik Kemantren Keraton itu memiliki nama Penak Karo Dik Tibi yang merupakan akronim dari pendampingan anak dan penderita sakit TBC.
Program tersebut berkolaborasi dengan kelurahan, puskesmas dan kader kesehatan hingga PKK.
Khusus untuk penanganan stunting, pihaknya melakukan sambang ke rumah warga dengan menyasar ibu hamil untuk mengajak dalam pemberian ASI eksklusif, kemudian penerapan pola makan bergizi, dan pola asuh yang sehat guna mencegah stunting.
“Begitu juga untuk anak, dilakukan pengukuran berat dan tinggi badan, serta pemberian pangan bergizi tambahan,” imbuhnya. (inu/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita