Tim TPUA Merasa Tidak Puas dengan Hasil Audiensi soal Polemik Ijazah Joko Widodo, Membuka Kemungkinan Tempuh Jalur Hukum
Fahmi Fahriza• Rabu, 16 April 2025 | 05:11 WIB
Ratusan massa aksi mengerumuni Fakuktas Kehutanan UGM dalam upaya mengklarifikasi dan audiensi soal keaslian ijasah Presiden ke-7 RI Joko Widodo
JOGJA - Ratusan massa aksi, yang mengaku tergabung dalam Tim Pembela Ulama dan Aktivis (TPUA) serentak mendatangi Universitas Gadjah Mada (UGM), pada Selasa (15/4). Mereka datang untuk mempertanyakan keaslian ijazah Presiden ke 7 Joko Widodo (Jokowi) pada pihak universitas.
Banyak dari massa aksi tersebut datang dari luar DIY. Mereka datang dari Jakarta, dan beberapa daerah di Jawa Barat, seperti Sukabumi, Tasikmalaya, hingga Majalengka. Selain itu, turut hadir pula beberapa tokoh dalam aksi yang dilakukan di Fakultas Kehutanan UGM tersebut, seperti Amien Rais dan Syukri Fadholi.
Dari ratusan massa aksi yang hadir, akhirnya ada tiga orang perwakilan yang bertemu langsung dan melakukan audiensi dengan jajaran rektorat UGM. Mereka adalah Roy Suryo, Rismon Hasiholan, dan Dr Tifauzia Tyassuma.
Dalam audiensi yang dilakukan, Roy Suryo mengungkapkan ada berbagai hal dari perwakilan TPUA yang ditanyakan secara tegas ke UGM. Mulai dari keaslian ijazah Jokowi, skripsi Jokowi, hingga tempat KKN Jokowi.
Roy Suryo menyampaikan, dalam audiensi tersebut akhirnya pihak UGM memperlihatkan secara langsung skripsi milik Jokowi. Setelah melihat dan mengamati langsung skripsi yang dibuat Jokowi tersebut, Roy Suryo mengaku ada beberapa hal yang sifatnya janggal.
"Akhirnya ditunjukkan skripsinya. Skripsi Jokowi memang ada perbedaan ketikan. Antara ketikan batang tubuh diketik dengan mesin tik biasa, dan di depan dengan cetakan yang cetakannya tidak pada zamannya," katanya pada awak media, Selasa (15/4).
Lebih lanjut, dia juga menyoroti pada lembar pengesahan juga tidak ada tanggal, serta tidak ada lembar pengesahan dari dosen pengujinya.
"Meskipun dosen pengujinya bisa disebutkan, tadi faktanya tidak ada tanda tangannya," lanjutnya.
Selanjutnya, ia juga menambahkan dalam pertemuan tersebut, pihaknya tidak bisa melihat langsung ijazah milik Jokowi. Roy Suryo mengungkapkan bahwa ijazah asli Jokowi itu tidak disimpan oleh UGM.
"Kita tidak bisa lihat ijazah asli karena ijazah aslinya tidak disimpan kampus. Ijazah asli akan dilihat teman-teman yang besok akan bergerak ke Solo," tuturnya.
Penuturan lain datang dari Dr Tifauzia atau Dr Tifa, ia menegaskan bahwa penting bagi UGM untuk bersikap netral, dan sama-sama hadir serta dalam perjuangan demokrasi yang ideal.
"Jadi UGM itu jangan menjadi tameng siapapun. UGM harus juga melihat kita ini para peneliti ingin menjaga marwah UGM, dan menjaga marwah Indonesia atas hal-hal yang ditanyakan oleh rakyat," pesannya.
Ia sendiri cukup menyayangkan, sebab dalam pertemuan yang dilakukan, tidak cukup bukti dan data yang dipaparkan oleh UGM kepada pihak TPUA.
"Itu yang kami butuh. Karena kami bisa jadi perpanjangan mulut dari UGM pada masyarakat," ujarnya.
Selanjutnya, Dr Tifa juga menyatakan, bahwa seharusnya UGM memposisikan diri untuk mendorong dan merangkul TPUA.
"UGM harusnya merangkul kami, bukan berlawanan. Kami ini para peneliti yang punya kredibilitas tinggi. Kalau memang UGM tahu, bersama dengan rakyat, sebagai Universitas rakyat UGM bersama kami, bukan bersama orang yang sekarang sedang kita permasalahkan," tandasnya.
Penuturan lain datang dari Rismon, ia sendiri mengaku kecewa dengan hasil audiensi yang dilakukan TPUA dengan pihak UGM.
"Sangat mengecewakan, pertama media hanya dari mereka, media dari pihak kita tidak boleh masuk, itu sudah janggal," tegasnya.
Selain itu, Rismon memaparkan bahwa dalam audiensi yang dilakukan, pihak UGM hanya membawa narasi, tidak ada bukti empiris.
"Kosong itu, UGM mengklaim punya 34 dokumen, tapi hanya ada Skripsinya Jokowi yang dibawa," keluhnya.
Soal skripsi milik Jokowi yang dihadirkan, Rismon sendiri mengungkapkan bahwa ada kejanggalan dalam isinya. Salah satu yang menjadi sorotannya adalah, tidak adanya lembar pengesahan skripsi dari dosen penguji, dan hanya ada tandatangan dosen pembimbing serta Dekan.
"Pertanyaannya, bagaimana mungkin Dekan menandatangani tanpa ada tandatangan penguji, hal itu sudah nonsense," tandasnya. (iza)