Sejak Kamis, 7 Maret 2025, aparatur sipil negara (ASN) di kabupaten Kulon Progo tidak wajib mengenakan batik motif Geblek Renteng.
Tak ada lagi ASN yang memakai batik dengan simbol khas angka 8. Pemandangan ini juga terjadi di kalangan pegawai badan usaha milik daerah (BUMD) dan badan layanan umum daerah (BLUD) di Kulon Progo.
Latar belakang Pemkab Kulon Progo menghapus batik motif Geblek Renteng mulai terbuka. Langkah dehastoisasi alias meminggirkan batik yang populer di masa Bupati Hasto Wardoyo, ternyata tak sepenuhnya datang dari pemkab. Namun kebijakan itu ditempuh setelah pemkab merasa mendapatkan restu alias lampu hijau dari Keraton Jogja.
“Saya dapat perintah langsung dari Ngarsa Dalem. Sebaiknya nandalem (anda, Red) menggantinya,” cerita Bupati Kulon Progo R. Agung Setyawan saat ditemui di sela mengikuti kegiatan Musda VI PAN di Hotel Royal Brongto Jogja, kemarin (13/4).
Ngarsa Dalem yang dimaksud Agung adalah raja sekaligus Gubernur DIJ Hamengku Buwono X. Diceritakan, tak lama usai dirinya dilantik Presiden RI Prabowo Subianto sebagai bupati Kulon Progo pada 20 Februari 2025 lalu, dirinya bertemu dengan HB X.
Pertemuan berlangsung di Hotel Royal Ambarrukmo, Sleman. Dalam pertemuan itu dibahas banyak hal terkait perkembangan Kulon Progo. Di antaranya, menyangkut eksitensi batik Geblek Renteng.
Dari pembicaraan itu, Agung menangkap pesan raja yang bertakhta sejak 7 Maret 1989 kurang berkenan dengan pilihan Geblek Renteng sebagai batik resmi di lingkungan Pemkab Kulon Progo.
“Beliau merasa sengkel ing manah (kecewa perasaannya, Red),” tutur Agung yang juga memiliki gelar raden dari Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat ini.
Sejak Geblek Renteng dijadikan batik khas Kulon Progo, HB X kemudian relatif jarang berkunjung ke kabupaten yang punya motto Binangun itu. Bahkan dari catatan Agung boleh dibilang tidak pernah.
Berbeda dengan kabupaten dan kota lainnya di DIJ, Geblek Renteng satu-satunya batik yang tidak dilengkapi dengan motif gunungan. Kota Jogja punya batik motif gunungan Segara Amarta.
Kabupaten Bantul dengan gunungan Projotamansari dan Sleman punya gunungan Parijatha Salak.
“Kulon Progo dengan Geblek Renteng tanpa motif gunungan,” kritiknya.(kus)