Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Bencana Longsor Intai Kawasan Lereng Merapi di Sleman dan Perbukitan Menoreh Kulon Progo hingga Pekan Depan, Ini Kata BMKG

Iwan Nurwanto • Kamis, 10 April 2025 | 18:18 WIB
Menikmati Air Terjun Sidoharjo di Perbukitan Menoreh, Kabupaten Kulon Progo.
Menikmati Air Terjun Sidoharjo di Perbukitan Menoreh, Kabupaten Kulon Progo.

JOGJA - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta memprediksi cuaca ekstrim akan terjadi hingga pekan depan. Sejumlah wilayah pun berpotensi mengalami bencana hidrometeorologi.

Kepala Stasiun Meteorologi BMKG Yogyakarta Warjono mengatakan, dari hasil pengamatan pihaknya terpantau adanya aktivitas siklon di Samudra Hindia sebelah barat Pulau Sumatera. Kondisi itu mengakibatkan adanya konvergensi di sepanjang Pulau Jawa, yang berdampak pada pertumbuhan awan hujan di DIY.

Menurut dia, selama masa tersebut potensi cuaca ekstrim juga meningkat dibandingkan biasanya. Lantaran intensitas hujan diprediksi lebih tinggi. Sehingga dapat memicu bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, angin kencang, hingga pohon tumbang.

“Kondisi tersebut dapat terjadi hingga tiga hari kedepan atau periode tanggal 10-14 April 2025,” ujar Warjono, Kamis (10/4/2025).

Warjono membeberkan, bahwa sejumlah kapanewon juga berpotensi mendapat ancaman bencana longsor karena merupakan wilayah rawan. Misalnya di kawasan Lereng Gunung Merapi meliputi Turi, Pakem, Cangkringan dan Prambanan.

Kemudian untuk kabupaten Kulonprogo, bencana longsor berpotensi terjadi di kapanewon Girimulyo, Samigaluh, Kalibawang, Nanggulan dan Kokap. Sementara untuk kabupaten Gunungkidul meliputi kapanewon Semanu, Wonosari, Playen, Paliyan, Patuk, Gedangsari, Ngawen dan Semin yang memiliki potensi bencana banjir dan tanah longsor.

“Selain itu daerah rawan banjir juga ada di Bantul. Seperti sekitar wilayah kepanewon Sedayu, Kasihan, Sewon, Banguntapan, Piyungan, Imogiri dan Dlingo,” terang Warjono.

Atas berbagai kondisi tersebut, Warjono meminta agar masyarakat mengantisipasi berbagai resiko bencana hidrometeorologi. Yakni dengan tidak melewati jalur rawan longsor dan mengevakuasi diri sendiri ke tempat yang lebih aman apabila memiliki tempat tinggal di rawan.

Selain itu, dirasa penting untuk membersihkan saluran air dan lingkungan sekitar untuk mengurangi risiko banjir. Kemudian juga menghindari aktivitas di wilayah rawan bencana serta mempersiapkan perlengkapan darurat termasuk tas siaga bencana.

“Kemudian juga menghindari lokasi rawan longsor saat mendung mulai gelap atau mulai hujan. Karena potensi terjadi cuaca ekstrim diprediksi antara siang hingga malam hari,” beber Warjono.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kota Jogja Nur Hidayat mengaku, pihaknya sudah berupaya mengantisipasi dampak bencana hidrometeorologi. Yakni dengan menyiagakan 26 EWS banjir.

Kehadiran EWS tersebut diharapkan dapat menjadi upaya deteksi dini bencana banjir selama musim penghujan seperti sekarang. Sehingga dampak kejadian maupun korban jiwa bencana hidrometeorologi pun dapat diminimalisasi.

Nur juga meminta, agar masyarakat yang tinggal di kawasan bantaran sungai senantiasa waspada terhadap bencana hidrometeorologi. Upayanya dapat dilakukan dengan selalu memantau informasi terkait dengan prakiraan cuaca, memastikan kesiapan jalur evakuasi, dan menyiapkan langkah mitigasi pada lingkungan masing-masing.

“Kami mengingatkan agar masyarakat dapat memahami ancaman bencana apa yang bisa terjadi di wilayah tempat tinggalnya,” pesan Nur. (inu)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#Perbukitan Menoreh #Cuaca Ekstrem #bencana hidrometeorologi #lereng merapi