JOGJA - Kondisi cuaca panas mulai terasa di wilayah Yogyakarta Minggu (6/4/2025). Meskipun demikian, musim kemarau di wilayah ini diprediksi baru akan terjadi pada akhir April mendatang.
Kepala Stasiun Klimatologi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta Reni Kraningtyas mengatakan, awal musim kemarau diprediksi terjadi pada akhir bulan nanti. Tepatnya dasarian ketiga bulan April hingga dasarian tiga bulan Mei.
Dia menyampaikan, prediksi musim kemarau tahun ini hampir sama dengan periode 1991 sampai 2020.
Kalaupun ada kemunduran, persentasenya sekitar 25 persen atau hanya mundur satu dasarian dari rata-rata.
Sementara untuk puncak musim kemarau, kata Reni, diprediksi terjadi pada Juli dan Agustus dengan durasi dari 13 sampai 15 dasarian. Yakni berkisar 150 hari atau antara 4,5 hingga 5 bulan.
“Kemudian untuk akhir musim kemarau 2025 diprediksi pada dasarian tiga September sampai dua dasarian dua Oktober,” ujar Reni dalam keterangannya Minggu (6/4/2025).
Menjelang memasuki musim kemarau, dia meminta pemerintah dan seluruh masyarakat untuk lebih antisipatif.
Terlebih pada potensi bencana yang selalu terjadi ketika musim penghujan telah berakhir.
Misalnya kekeringan meteorologis, kebakaran hutan dan lahan serta berkurangnya ketersediaan air bersih.
Kemudian selama masa peralihan musim seperti sekarang, yang patut diwaspadai bencana hidrometeorologi berupa hujan lebat disertai angin kencang.
"Tindakan antisipasi lainnya juga diperlukan terhadap kondisi iklim saat musim kemarau, dengan mempersiapkan pola tanam yang sesuai agar tidak mengalami gagal panen,” tambah Reni.
Terpisah, Ketua Tim Kerja Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Jogja Darmanto mengimbau masyarakat terus memantau kondisi cuaca.
Serta melaporkan tanda-tanda kerawanan bencana agar dampak bencana dapat dihindari.
Ia pun menegaskan, pemkot terus berkomitmen untuk melakukan koordinasi lintas perangkat daerah. Sehingga risiko bencana di wilayah Kota Jogja pun dapat diminimalisasi.
"Kami mengimbau masyarakat, terutama yang berada di area rawan untuk lebih waspada dan selalu memperhatikan kondisi lingkungan sekitar," pesannya. (inu/laz)
Editor : Winda Atika Ira Puspita