JOGJA - Tindakan nuthuk atau menerapkan harga tidak wajar, pernah mencoreng muka pariwisata di Jogja.
Namun kini pelaku usaha di Malioboro mulai berbenah dan meneguhkan komitmennya untuk menerapkan harga wajar bagi wisatawan. Khususnya selama masa libur panjang Lebaran.
Ketua Paguyuban Angkringan Malioboro Yati Dimanto mengatakan, permasalahan nuthuk untuk saat ini sudah berupaya untuk dicegah. Yakni dengan cara pedagang memasang daftar menu beserta harganya di tempat makan.
"Kecuali si tamu itu ada tambahan menu misalnya. Kan jadi beda harganya. Tapi kalau angkringan, saya tanggung jawab untuk tidak nuthuk, karena kami juga jaga nama," ujar Yati saat dikonfirmasi Radar Jogja, Sabtu (22/3/2025).
Melalui daftar menu sekaligus harga yang terpasang di warung, Yati menyebut hal itu merupakan salah satu bentuk tranparansi pedagang terhadap konsumen atau wisatawan.
Sehingga sebelum membeli, wisatawan pun dapat menghitung kisaran harga. Kemudian dapat memutuskan untuk membeli atau tidak sesuai kemampuan budgetnya.
Dia menyatakan, setelah ramai kasus pada medio tahun 2021 lalu, sampai saat ini belum ditemukan kembali kasus nuthuk.
Pun yang terjadi pada saat itu, menurutnya, hanya salah paham namun sudah telanjur viral di media sosial.
Yati pun memastikan, anggota Paguyuban Angkringan Malioboro sudah memiliki komitmen untuk memberi pelayanan terbaik kepada wisatawan.
Sehingga jika ada pelaku usaha yang berani nuthuk, tentu akan ada sanksi yang diberikan oleh paguyuban.
Menurutnya, bentuk sanksi yang diberikan kepada pelaku usaha angkringan nuthuk berupa sanksi teguran jika baru melakukannya kali pertama.
Namun jika berulang kali, pengurus paguyuban akan membebani sanksi berupa penutupan usaha sementara.
“Kalau masalah sanksi jelas ada, minimal teguran untuk pelanggaran pertama. Kalau masih diulang juga, ya terpaksa tidak boleh buka sampai liburan habis,” tegas Yati.
Sementara itu, salah satu penjual oleh-oleh di Teras Malioboro Ketandan Abdul berharap, momen libur panjang Lebaran nanti bisa membawa berkah bagi pelaku usaha. Yakni naiknya omzet penjualan dari banyaknya kunjungan wisatawan.
Dia memastikan, penjual oleh-oleh akan menerapkan harga wajar bagi wisatawan dan bahkan barang yang dijual pun boleh ditawar.
Menurutnya, tindakan nuthuk bagi pembeli tidak akan dilakukan.
Jika memberikan harga yang terlalu tinggi, biasanya wisatawan juga tidak akan membeli.
"Kalau nuthuk tidak akan, karena bisa laku saja kami sudah bersyukur," katanya. (inu/laz)
Editor : Winda Atika Ira Puspita